
Pantau - Iran menegaskan tidak akan melewatkan kesempatan untuk melindungi kepentingan nasionalnya dan menjaga perdamaian regional melalui jalur diplomasi.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, melalui unggahan di platform media sosial X pada Kamis, 5 Februari 2026.
Pernyataan ini disampaikan menjelang pembicaraan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) yang dijadwalkan berlangsung pada Jumat, 6 Februari 2026 di Muscat, ibu kota Oman.
Delegasi Iran dalam pembicaraan tersebut dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Seyyed Abbas Araghchi.
Fokus pada Kesepahaman Nuklir yang Adil
Baghaei mengungkapkan bahwa tujuan utama pertemuan ini adalah untuk mencapai "sebuah kesepahaman yang adil, saling dapat diterima, dan bermartabat" antara Iran dan Amerika Serikat terkait isu nuklir.
Ia menambahkan, Iran berharap pemerintah AS turut serta dalam proses ini dengan tanggung jawab, sikap realistis, dan keseriusan.
Delegasi AS sendiri dipimpin oleh utusan khusus presiden, Steve Witkoff.
Pembicaraan ini dinilai krusial karena berlangsung di tengah ketegangan tinggi yang masih membayangi hubungan kedua negara.
Ketegangan Meningkat, Opsi Militer Masih Terbuka
Sementara proses diplomatik berlangsung, Washington memberi sinyal bahwa opsi militer tetap terbuka apabila upaya dialog ini gagal mencapai hasil.
Laporan juga menyebutkan adanya perluasan pengerahan kekuatan Angkatan Laut AS di kawasan Timur Tengah.
Sebaliknya, pejabat Iran memperingatkan bahwa setiap serangan dari pihak AS berpotensi memicu konflik regional yang lebih luas.
- Penulis :
- Arian Mesa








