Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Geopolitik

Jepang Gelar Pemilu di Tengah Salju, PM Sanae Takaichi Targetkan Mandat Publik dan Mayoritas Parlemen

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Jepang Gelar Pemilu di Tengah Salju, PM Sanae Takaichi Targetkan Mandat Publik dan Mayoritas Parlemen
Foto: (Sumber: Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi berbicara pada konferensi pers di kediaman resmi perdana menteri di Tokyo, Jepang, Senin (19/1/2026). ANTARA/Xinhua/Pool/Rodrigo Reyes Marin/aa.)

Pantau - Pemilihan umum digelar di seluruh Jepang pada Minggu, 8 Februari 2026, dengan Perdana Menteri Sanae Takaichi berharap memperoleh mandat rakyat untuk melanjutkan kebijakan ekonomi dan keamanannya melalui koalisi baru yang ia pimpin.

Koalisi tersebut terdiri dari Partai Demokrat Liberal (LDP) dan Partai Inovasi Jepang (JIP), dan menargetkan perolehan mayoritas di Majelis Rendah (DPR) yang memiliki 465 kursi.

Takaichi mengandalkan popularitas pribadinya dan menyatakan akan “segera mengundurkan diri” jika koalisi gagal mengamankan mayoritas.

Pemilu ini menjadi yang pertama dalam 36 tahun terakhir yang digelar pada bulan Februari, dengan kondisi cuaca ekstrem berupa hujan salju lebat yang dikhawatirkan menurunkan partisipasi pemilih.

Sebanyak hampir 1.300 kandidat bersaing dalam pemilu ini, memperebutkan 289 kursi dari daerah pemilihan tunggal dan 176 kursi dari sistem perwakilan proporsional.

Ketegangan Regional dan Krisis Biaya Hidup Warnai Kampanye

Selama kampanye, partai-partai besar menjanjikan pengurangan beban pajak untuk mengatasi kenaikan biaya hidup, serta penangguhan pajak konsumsi atas bahan makanan.

Namun, perdebatan tetap muncul mengenai sumber pendanaan dan waktu implementasi.

Takaichi dikenal berpandangan keras dalam isu keamanan dan berkomitmen memperkuat pertahanan nasional serta meningkatkan hubungan strategis dengan Amerika Serikat.

Ia juga menargetkan revisi Konstitusi Jepang, yang mensyaratkan dukungan dua pertiga DPR atau minimal 310 kursi, untuk bisa mengusulkan referendum nasional.

Sementara itu, oposisi utama dari Aliansi Reformasi Sentris—gabungan Partai Demokrat Konstitusional Jepang dan Komeito—berusaha mengakhiri dominasi sayap kanan dan mengubah persepsi publik bahwa mereka hanya aliansi elektoral.

Komeito sebelumnya menjadi mitra LDP selama 26 tahun sebelum berpisah pada Oktober 2025.

Takaichi Dikecam karena Pilih Waktu Pemilu di Tengah Cuaca Buruk

Keputusan Perdana Menteri Takaichi menggelar pemilu pada Februari juga menuai kritik karena dianggap menyulitkan kampanye dan menunda pengesahan anggaran fiskal 2026.

Namun, Takaichi membela keputusannya dengan alasan belum mendapat mandat publik untuk pergeseran kebijakan besar yang ia usung, termasuk pendekatan fiskal “bertanggung jawab namun agresif”.

Sebelum parlemen dibubarkan akhir Januari, koalisi hanya memiliki mayoritas tipis dan masih bergantung pada anggota independen.

Saat ini, LDP memiliki 198 kursi, JIP 34 kursi, dan Aliansi Reformasi Sentris 167 kursi—dengan jajak pendapat menunjukkan koalisi Takaichi masih unggul tipis atas oposisi.

Penulis :
Gerry Eka