Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Geopolitik

Warga Palestina Sambut Ramadan di Tengah Eskalasi Kekerasan dan Pembatasan Ketat

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Warga Palestina Sambut Ramadan di Tengah Eskalasi Kekerasan dan Pembatasan Ketat
Foto: (Sumber: Seorang pria menjual produk di sebuah pasar menjelang Ramadhan di Kota Gaza pada 28 Februari 2025. ANTARA/Xinhua/Rizek Abdeljawad.)

Pantau - Warga Palestina di Gaza dan Tepi Barat bersiap menyambut bulan suci Ramadan yang diperkirakan dimulai pada Rabu 18 Februari atau Kamis 19 Februari di tengah eskalasi kekerasan dan ketegangan yang terus berlanjut.

Banyak warga menyebut Ramadan tahun ini sebagai "bulan Ramadan kelabu" lainnya akibat kondisi kemanusiaan yang semakin memburuk.

Meskipun gencatan senjata telah berlaku di Gaza sejak Oktober 2025, serangan Israel dilaporkan masih terus terjadi.

Pada Minggu 15 Februari, sedikitnya 11 warga Palestina tewas di Gaza menurut pejabat medis dan otoritas setempat yang menggambarkan peristiwa tersebut sebagai pelanggaran gencatan senjata terbaru.

Otoritas kesehatan Gaza mencatat 603 warga Palestina tewas dan 1.618 orang luka-luka sejak gencatan senjata dimulai pada 10 Oktober 2025.

Total korban tewas di Gaza sejak Oktober 2023 disebut telah melampaui 72.000 orang dengan lebih dari 171.000 orang mengalami luka-luka.

Di Gaza City, Pasar Zawiya yang sebelumnya ramai kini sebagian besar kosong dengan barang dagangan menumpuk di rak-rak toko.

Sameh al-Bitar, pemilik toko rempah-rempah berusia 40 tahun, mengungkapkan, "Dulu kami biasa menghias rumah, jalanan, dan pasar," katanya.

Ia juga menyatakan, "Perang belum berakhir," ujarnya.

Al-Bitar mengatakan dirinya kehilangan dua putranya dalam sebuah serangan udara dan menyebut setiap hari masih terjadi pelanggaran, kematian, serta korban luka.

Ia menilai Ramadan tahun ini hanya akan diisi dengan ritual keagamaan tanpa kunjungan keluarga maupun acara berbuka puasa bersama seperti sebelumnya.

Di Tepi Barat dan Yerusalem Timur, warga Palestina khawatir Ramadan akan disertai peningkatan pengamanan serta potensi bentrokan.

Pasukan Israel dilaporkan terus melakukan penyerbuan dan penangkapan di berbagai kota dan kamp pengungsi serta memperkuat pos pemeriksaan militer di pintu masuk kota dan desa.

Kota Nablus, Jenin, dan Tulkarm dilaporkan mengalami konfrontasi sporadis antara pemuda Palestina dan pasukan Israel.

Warga juga melaporkan penyerbuan malam hari, penangkapan, perluasan permukiman, serta penyitaan tanah yang meningkatkan ketegangan terutama di sekitar situs keagamaan sensitif.

Di Kota Hebron, akses ke Masjid Ibrahimi disebut telah dibatasi akibat kehadiran militer Israel dan kedekatannya dengan permukiman Yahudi.

Saeed al-Awiwi yang berusia 50 tahun mengatakan, "Semua indikasi menunjukkan bahwa Ramadan kali ini akan sangat berat," ungkapnya.

Di Kota Tua Yerusalem, Abdul Rahman al-Alami yang berusia 22 tahun menyampaikan kekhawatiran bahwa kaum muda akan dilarang salat di Masjid Al-Aqsa.

Ia mengatakan, "Hanya tinggal beberapa hari lagi, dan orang-orang seusia kita mungkin akan dilarang masuk," katanya.

Ia juga menambahkan bahwa pihak berwenang sering memasang penghalang, gerbang elektronik, serta melakukan pemeriksaan selama Ramadan.

Pada Minggu, Israel menyetujui dimulainya proses pendaftaran tanah di Tepi Barat untuk pertama kalinya sejak 1967 yang diharapkan dapat mengklasifikasikan wilayah luas sebagai tanah milik negara.

Kepresidenan Palestina mengutuk keputusan tersebut sebagai pelanggaran hukum internasional dan menggambarkannya sebagai langkah menuju aneksasi de facto.

Israel merebut Tepi Barat dalam perang Timur Tengah tahun 1967 dan sebagian besar komunitas internasional menganggap permukiman di wilayah tersebut ilegal.

Menjelang Ramadan, warga Palestina di Gaza, Tepi Barat, dan Yerusalem menyatakan kesiapan mereka menghadapi bulan suci dengan pembatasan pergerakan, pengamanan ketat, dan situasi sulit yang berkepanjangan.

Penulis :
Ahmad Yusuf