
Pantau - Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul bertemu dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi untuk membahas situasi di Timur Tengah dan sepakat bahwa jalur pelayaran di Selat Hormuz harus segera dibuka serta dijamin kebebasannya bagi kapal internasional.
Pertemuan tersebut menegaskan bahwa tidak boleh ada satu negara pun yang mengendalikan jalur strategis tersebut atau mengenakan biaya pelayaran bagi kapal yang melintas.
Kementerian Luar Negeri Jerman menyampaikan bahwa prinsip kebebasan navigasi harus dijaga demi stabilitas perdagangan global dan keamanan energi dunia.
Jerman dan China juga menyatakan keprihatinan atas meningkatnya konflik di kawasan Timur Tengah serta mendesak agar ketegangan segera diselesaikan melalui jalur diplomasi.
Wadephul berharap China dapat memanfaatkan pengaruhnya terhadap Iran untuk mendorong solusi damai melalui negosiasi.
Iran Siapkan Aturan Navigasi dan Biaya Transit
Seorang anggota parlemen Iran, Alaeddin Boroujerdi, menyatakan bahwa Iran berencana membuat aturan baru terkait navigasi di Selat Hormuz.
Ia mengungkapkan, "Iran akan menjamin keamanan jalur pelayaran, tetapi akan mengenakan biaya transit bagi kapal yang melintas."
Boroujerdi juga menegaskan, "Tidak ada kapal yang dapat melewati Selat Hormuz tanpa izin dari Iran."
Kebijakan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan yang memicu kekhawatiran atas potensi gangguan distribusi energi global.
Usulan Koridor Kemanusiaan dan Dampak Global
Menteri Luar Negeri sekaligus Wakil Perdana Menteri Italia Antonio Tajani mengusulkan pembentukan koridor kemanusiaan di Selat Hormuz untuk menjaga distribusi logistik penting.
Usulan tersebut mendapat dukungan dari sejumlah pihak, termasuk Menteri Belanda dan Wakil Menteri Uni Emirat Arab dalam diskusi bersama.
Koridor kemanusiaan diharapkan dapat memperlancar distribusi pupuk dan pasokan penting lainnya guna mencegah krisis pangan baru, terutama di negara-negara Afrika.
Eskalasi konflik bermula pada 28 Februari ketika Amerika Serikat dan Israel melakukan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil.
Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel serta fasilitas militer Amerika Serikat di Timur Tengah, termasuk di Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi.
Rangkaian serangan tersebut memicu blokade de facto di Selat Hormuz yang merupakan jalur vital pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global.
Gangguan di jalur tersebut berdampak langsung pada kenaikan harga energi dunia dan meningkatkan ketidakpastian ekonomi global.
- Penulis :
- Leon Weldrick








