Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Geopolitik

Wapres AS JD Vance Sebut Perundingan Nuklir dengan Iran Produktif Meski Belum Bahas Garis Merah Trump

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Wapres AS JD Vance Sebut Perundingan Nuklir dengan Iran Produktif Meski Belum Bahas Garis Merah Trump
Foto: (Sumber: Ilustrasi - pembicaraan nuklir Iran dan Amerika Serikat. ANTARA/Anadolu/py.)

Pantau - Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance menyatakan putaran kedua perundingan dengan Iran berlangsung produktif dalam beberapa hal namun belum memasuki pembahasan sejumlah “garis merah” yang ditetapkan Presiden Donald Trump.

Pernyataan itu disampaikan Vance pada Selasa, 17 Februari 2026, dalam wawancara dengan Fox News.

“Dalam beberapa hal, itu berjalan baik. Mereka sepakat untuk bertemu setelahnya. Tetapi dalam hal lain, sangat jelas bahwa presiden telah menetapkan sejumlah garis merah yang belum bersedia diakui dan dibahas oleh pihak Iran,” kata Vance.

Ia tidak merinci garis merah yang dimaksud namun menegaskan kepentingan utama Amerika Serikat adalah mencegah Iran memiliki senjata nuklir.

“Kami akan terus mengupayakannya. Namun tentu saja, presiden berhak untuk menentukan kapan bahwa diplomasi telah mencapai batas alaminya. Kami berharap tidak sampai pada titik itu, tetapi jika itu terjadi, itu akan menjadi keputusan presiden,” tambahnya.

Delegasi Iran dalam perundingan tersebut dipimpin Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.

Tim Amerika Serikat dipimpin utusan khusus Steve Witkoff dan menantu Presiden Trump, Jared Kushner.

Araghchi menyatakan telah terjadi kemajuan dalam perundingan yang berlangsung di Jenewa dan menggambarkan suasananya lebih konstruktif.

“Diputuskan bahwa kedua belah pihak akan mengerjakan draf potensi kesepakatan, dan setelah saling bertukar teks. Waktu untuk putaran pembicaraan berikutnya akan ditentukan,” kata Araghchi.

Ia menambahkan terdapat jalur yang jelas ke depan untuk negosiasi nuklir dengan pihak Amerika yang dinilai positif dari perspektif Iran.

Pada 6 Februari 2026, Oman menjadi tuan rumah putaran pertama pembicaraan tidak langsung di Muscat.

Pembicaraan tersebut merupakan yang pertama sejak Presiden Trump memerintahkan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni.

Setelah itu, Trump mengarahkan peningkatan kekuatan militer Amerika Serikat di kawasan sembari mengancam Iran agar mencapai kesepakatan dengan Washington.

Penulis :
Ahmad Yusuf