
Pantau - Sejumlah negara Asia mulai merasakan dampak ekonomi akibat meningkatnya serangan udara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang memicu krisis di Selat Hormuz sebagai salah satu koridor energi paling vital di dunia.
Kapal-kapal tanker minyak masih tertahan di sekitar Selat Hormuz sementara beberapa operator pelayaran menghentikan transit karena melonjaknya biaya asuransi dan meningkatnya kekhawatiran keamanan.
Data pelayaran menunjukkan volume transit pada 1 Maret turun 86 persen dibandingkan rata-rata tahun 2026 di tengah ketidakpastian situasi keamanan.
Media Iran melaporkan pada Sabtu bahwa Selat Hormuz telah "secara efektif" ditutup setelah serangan Amerika Serikat dan Israel meski belum ada pengumuman resmi mengenai blokade formal.
United Kingdom Maritime Trade Operations melaporkan sejumlah insiden maritim yang digambarkan sebagai serangan pada Minggu di kawasan tersebut.
Selat Hormuz menangani sekitar seperlima perdagangan minyak dunia atau sekitar 20 juta barel per hari serta volume besar ekspor gas alam cair dari Qatar dan Uni Emirat Arab.
Hanya Arab Saudi dan Uni Emirat Arab yang memiliki jaringan pipa alternatif untuk menghindari Selat Hormuz namun kapasitasnya hanya mencakup sebagian kecil volume minyak mentah yang biasanya dikirim melalui jalur tersebut.
China menyebut jalur perairan itu sebagai "rute perdagangan internasional yang penting" dan mendesak penghentian segera operasi militer.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning menyatakan stabilitas di selat dan perairan sekitarnya sangat penting bagi perdagangan global serta menyerukan langkah-langkah untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.
Lebih dari 40 kapal yang terkait dengan Jepang termasuk kapal tanker minyak tertahan di Teluk Persia menurut laporan Kyodo News dan setidaknya tiga kapal menghentikan upaya melintasi selat tersebut.
Jepang yang mengimpor sekitar 95 persen minyak mentahnya dari Timur Tengah meminta jaminan keamanan atas jalur pelayaran itu.
Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi meminta Duta Besar Iran untuk Tokyo Peiman Seadat membantu memastikan keselamatan pelayaran di Selat Hormuz.
Berdasarkan pernyataan Kementerian Luar Negeri Jepang, Motegi menyatakan Tokyo akan "terus melakukan seluruh upaya diplomatik yang diperlukan untuk mencapai penyelesaian situasi ini secepat mungkin.".
Malaysia menyarankan kapal-kapalnya untuk menghindari Selat Hormuz hingga pemberitahuan lebih lanjut guna meminimalkan risiko keamanan.
Departemen Kelautan Malaysia meminta operator kapal memantau peringatan keamanan internasional secara ketat dan menjaga kesiapsiagaan operasional pada tingkat tinggi.
Pakistan menyiapkan rencana darurat jika gangguan berlanjut lebih dari 10 hingga 12 hari untuk menjaga ketahanan pasokan energinya.
Islamabad kemungkinan akan meminta dimasukkan dalam daftar pasokan minyak mentah pilihan Arab Saudi untuk pengiriman melalui Laut Merah apabila krisis berkepanjangan.
Dua kapal tanker minyak mentah yang dioperasikan Pakistan National Shipping Corporation masih tertahan di dekat selat dan satu kapal lainnya diperkirakan belum akan berangkat dalam waktu dekat setelah mulai memuat saat konflik meningkat.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf







