
Pantau - Misi tetap Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) membantah klaim bahwa Teheran menutup Selat Hormuz serta menuduh Amerika Serikat telah membahayakan keamanan pelayaran setelah kapal perang Iran, fregat Dena, dilaporkan ditenggelamkan kapal selam AS di perairan internasional dengan korban lebih dari 100 pelaut tewas.
Misi Iran dalam pernyataan di platform media sosial X menyatakan bahwa tuduhan mengenai penutupan Selat Hormuz tidak berdasar.
"Klaim bahwa Iran menutup Selat Hormuz tidak berdasar dan tidak masuk akal", tulis misi Iran dalam pernyataannya.
Misi tersebut juga menegaskan bahwa Iran tetap mematuhi ketentuan hukum internasional terkait pelayaran internasional.
Iran menyatakan negaranya "tetap berkomitmen pada hukum internasional dan kebebasan navigasi", demikian isi pernyataan tersebut.
Iran Sebut Kapal Perang Diserang Kapal Selam AS
Pemerintah Iran menyatakan fregat Dena yang membawa sekitar 130 pelaut dan sedang melakukan kunjungan angkatan laut ke India telah diserang dan ditenggelamkan oleh kapal selam Amerika Serikat.
Dalam pernyataan resminya, Iran menyebut kapal tersebut dihantam "di perairan internasional oleh kapal selam AS tanpa peringatan".
Serangan itu disebut terjadi hampir 2.000 mil dari pantai Iran di kawasan Samudra Hindia.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan insiden tersebut terjadi pada Rabu di lepas pantai Sri Lanka.
Ia menjelaskan kapal perang Iran itu sedang dalam perjalanan kembali setelah mengikuti latihan angkatan laut di lepas pantai India pada bulan sebelumnya.
Akibat serangan tersebut lebih dari 100 pelaut dilaporkan tewas.
Sebanyak 32 pelaut lainnya mengalami luka-luka.
Beberapa pelaut juga dilaporkan masih hilang setelah insiden tersebut.
Iran Nilai Serangan Langgar Hukum Internasional
Pemerintah Iran menilai tindakan tersebut sebagai serangan berbahaya yang melanggar hukum internasional.
Dalam pernyataannya Iran menegaskan "Serangan sembrono ini melanggar prinsip-prinsip dasar hukum internasional dan kebebasan navigasi".
Insiden di Samudra Hindia itu terjadi di tengah meningkatnya konflik militer antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat.
Serangan militer Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran disebut dimulai pada Sabtu sebelumnya.
Konflik tersebut dilaporkan menewaskan sedikitnya 926 orang.
Korban tewas termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei serta sejumlah pejabat tinggi militer Iran.
Iran kemudian melancarkan serangan balasan menggunakan pesawat tak berawak dan rudal.
Serangan balasan itu menargetkan Israel serta sejumlah negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer Amerika Serikat.
- Penulis :
- Aditya Yohan







