
Pantau - Perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran telah berlangsung sekitar sepekan sejak dimulai pada 28 Februari 2026 dan hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir.
Serangan dari kedua pihak dilaporkan semakin masif dan meluas ke sejumlah negara di kawasan Timur Tengah sehingga jumlah korban terus bertambah seiring meningkatnya intensitas serangan.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa serangan terhadap Iran dilakukan karena kekhawatiran bahwa Iran akan menyerang lebih dahulu.
Namun alasan tersebut dinilai sebagai dalih yang dipertanyakan di tengah tuduhan bahwa Iran memiliki senjata nuklir.
Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional Rafael Grossi membantah tudingan tersebut.
Ia mengatakan, "Apakah mereka Iran memilikinya senjata nuklir Tidak".
Pernyataan itu disampaikan Rafael Grossi kepada NBC News pada Selasa, 3 Maret 2026.
Konflik tersebut memunculkan kembali pertanyaan mengenai kepentingan di balik keputusan Amerika Serikat menyerang Iran.
Serangan itu dinilai melanggar Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa serta dianggap bertentangan dengan hukum internasional dan norma kemanusiaan.
Sejumlah pihak menyoroti implikasi politik global dari eskalasi militer yang terus berlangsung di kawasan tersebut.
Perdebatan mengenai kepentingan di balik kebijakan politik Amerika Serikat kerap dikaitkan dengan isu pengaruh kelompok tertentu dalam politik dan ekonomi negara tersebut yang telah muncul sejak lebih dari seratus tahun lalu.
Salah satu tokoh yang pernah menyinggung isu tersebut adalah Henry Ford, pendiri Ford Motor Company sekaligus pemilik surat kabar mingguan The Dearborn Independent yang berbasis di Michigan.
Dalam surat kabar tersebut dimuat puluhan artikel yang membahas tentang Yahudi termasuk pembahasan mengenai Protokol Zionis.
Kalangan Yahudi kemudian menilai Henry Ford sebagai tokoh antisemitisme serta dituduh sebagai rasis dan penganut Naziisme.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf







