Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Geopolitik

Jepang dan AS Perkuat Koordinasi Jaga Keamanan Selat Hormuz di Tengah Konflik Timur Tengah

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Jepang dan AS Perkuat Koordinasi Jaga Keamanan Selat Hormuz di Tengah Konflik Timur Tengah
Foto: (Sumber : Arsip - Suasana perairan di Selat Hormuz, Iran. (ANTARA/Anadolu/Fatemeh Bahrami/py/am.).)

Pantau - Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi menyatakan Jepang akan bekerja sama dengan Amerika Serikat dan negara lain untuk menjaga keamanan navigasi di Selat Hormuz di tengah konflik Timur Tengah yang telah memasuki pekan ketiga.

Koordinasi Jepang-AS di Tengah Ketegangan

Pernyataan tersebut disampaikan Motegi setelah melakukan pembicaraan via telepon dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio guna membahas situasi kawasan yang semakin memanas.

Rubio menjelaskan sikap serta upaya Amerika Serikat terkait konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan sekutu lainnya, ia mengungkapkan, "Kami terus berkoordinasi dengan mitra internasional untuk menjaga stabilitas kawasan."

Kedua negara sepakat menjaga komunikasi erat dan memperkuat kerja sama menjelang rencana pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi di Washington.

Permintaan Trump sebelumnya agar negara lain mengirim kapal perang ke Selat Hormuz tidak dibahas dalam percakapan tersebut.

Dampak Penutupan Selat Hormuz dan Sikap Jepang

Konflik yang berlangsung telah mendorong Iran secara efektif menutup Selat Hormuz sebagai respons atas serangan Amerika Serikat dan Israel.

Selat Hormuz diketahui menjadi jalur vital bagi sekitar 20 persen distribusi minyak dan gas alam cair dunia.

Lebih dari 90 persen impor minyak Jepang berasal dari Timur Tengah dan sebagian besar pasokannya melewati jalur tersebut.

Motegi juga melakukan komunikasi dengan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab untuk menegaskan kerja sama dalam meredakan situasi serta menjaga stabilitas pasokan minyak mentah dan keselamatan warga Jepang di kawasan.

Pengiriman pasukan Jepang ke luar negeri tetap menjadi isu sensitif karena konstitusi negara tersebut membatasi keterlibatan militer, sehingga Jepang hanya dapat mengerahkan kapal untuk pengawalan dengan penggunaan senjata terbatas.

Penulis :
Ahmad Yusuf