
Pantau - Kuwait Petroleum Corporation memangkas produksi minyak mentah akibat gangguan pelayaran di Selat Hormuz yang dipicu eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Gangguan Selat Hormuz Picu Penurunan Produksi
Perusahaan menyatakan langkah tersebut diambil karena meningkatnya risiko keamanan di jalur pelayaran strategis tersebut.
"Kami terpaksa memangkas produksi karena ketidakamanan rute pelayaran di jalur perairan strategis tersebut, situasi ini merupakan eskalasi serius yang mengancam stabilitas pasar energi global," ungkap pernyataan resmi perusahaan.
Sejak 10 Maret, produksi minyak Kuwait turun drastis menjadi sekitar 500 ribu barel per hari dari sebelumnya lebih dari 3 juta barel per hari.
Perusahaan juga menyebut produksi dapat kembali normal dalam waktu tiga hingga empat bulan jika konflik mereda.
Eskalasi Konflik Picu Lonjakan Harga Minyak
Gangguan di Selat Hormuz terjadi setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026.
Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20 juta barel minyak per hari sehingga gangguan langsung berdampak pada biaya pengiriman dan harga minyak global.
Iran kemudian membalas dengan serangan drone dan rudal ke sejumlah wilayah termasuk Israel dan negara-negara Teluk yang menjadi basis militer AS.
Eskalasi konflik tersebut menyebabkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta mengganggu pasar energi dan penerbangan internasional.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf







