
Pantau - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendesak negara-negara anggota NATO untuk mengirimkan kapal militer ke Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran yang mengganggu jalur vital distribusi minyak dunia.
Desakan Trump dan Kritik terhadap NATO
Trump menyampaikan dorongan tersebut dalam wawancara dengan media, sekaligus menyoroti minimnya keterlibatan NATO di kawasan strategis tersebut.
“Mereka harus berani masuk dan mengirimkan kapal-kapal mereka ke sana dan menikmatinya,” katanya.
Ia juga menegaskan ketidaktergantungannya pada aliansi tersebut dengan mengatakan, “Saya tidak peduli. Saya tidak membutuhkan mereka,” ungkapnya saat ditanya soal sikap NATO.
Trump bahkan menyebut anggota NATO sebagai “pengecut” dalam wawancara terpisah, serta kembali mengisyaratkan kemungkinan Amerika Serikat keluar dari aliansi tersebut.
Selat Hormuz Memanas dan Dampak Global
Selat Hormuz yang dilalui sekitar 20 juta barel minyak per hari mengalami gangguan sejak awal Maret akibat konflik antara AS-Israel dan Iran.
Trump meminta negara-negara Eropa dan Teluk yang bergantung pada jalur tersebut untuk turut bertanggung jawab dalam mengamankan dan membuka kembali akses pelayaran.
Menurut laporan, Trump dijadwalkan bertemu Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte di Washington pekan depan untuk membahas situasi tersebut.
Sepanjang sejarahnya, NATO baru sekali mengaktifkan Pasal 5, yakni setelah serangan 11 September 2001 di AS yang menyatakan bahwa serangan terhadap satu anggota dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota.
Namun, langkah Trump dalam konflik dengan Iran menuai kritik dari sekutu NATO karena dinilai tidak melalui konsultasi terlebih dahulu.
Selain itu, upaya AS untuk keluar dari NATO juga menghadapi hambatan hukum karena memerlukan persetujuan dua pertiga anggota Senat sesuai undang-undang tahun 2023.
- Penulis :
- Aditya Yohan








