
Pantau - Sekretaris Jenderal Antonio Guterres menyerukan agar masa depan dunia dipandu oleh supremasi hukum, bukan kesewenang-wenangan, dalam peringatan 80 tahun Mahkamah Internasional di Den Haag, Belanda.
Dalam pidatonya, Guterres menekankan bahwa pelanggaran hukum internasional kini terjadi secara nyata di berbagai belahan dunia.
"Kepatuhan terhadap hukum internasional menjadi lebih penting dari sebelumnya justru karena sistem internasional sedang berada di bawah tekanan yang begitu besar, terutama di era pergeseran dinamika kekuasaan ini," ujarnya.
Ia juga memperingatkan bahwa pelemahan hukum internasional dapat mengikis fondasi stabilitas global.
"Ketika kesewenang-wenangan menggantikan kekuatan hukum, ketidakstabilan menyebar luas," kata Guterres.
Presiden ICJ Iwasawa Yuji menyoroti meningkatnya pengabaian terhadap kewajiban internasional serta berkembangnya skeptisisme terhadap multilateralisme.
"Mahkamah Internasional menanggapi tantangan-tantangan ini dengan menjalankan fungsi yudisialnya, yaitu dengan menafsirkan dan menerapkan hukum internasional secara ketat dan dengan iktikad baik," ujarnya.
ICJ merupakan pengadilan tertinggi di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menyelesaikan sengketa antara 193 negara anggota.
Lembaga tersebut didirikan pada 1945 dan bermarkas di Istana Perdamaian, Den Haag, serta berperan penting dalam menjaga perdamaian dan keamanan global melalui jalur hukum.
Peringatan 80 tahun sesi perdana ICJ turut dihadiri oleh Willem-Alexander bersama sejumlah pejabat internasional lainnya.
- Penulis :
- Gerry Eka








