HOME  ⁄  Hiburan

“Esok Tanpa Ibu”: Ketika Kecanggihan AI Tak Bisa Menggantikan Proses Ikhlas

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

“Esok Tanpa Ibu”: Ketika Kecanggihan AI Tak Bisa Menggantikan Proses Ikhlas
Foto: (Sumber: Para pemeran film "Esok Tanpa Ibu", Ali Fikry (kiri), Dian Sastrowardoyo (tengah), Ringgo Agus Rahman (kanan) saat ditemui seusai pemutaran pratayang film "Esok Tanpa Ibu" di Epicentrum XXI, Senin (19/1/2026). (ANTARA/Farika Nur Khotimah))

Pantau - Film Esok Tanpa Ibu menyajikan kisah kehilangan dengan pendekatan sunyi dan emosional, tanpa ledakan konflik atau kejutan dramatis. Cerita ini mengikuti perjalanan Rama (Ali Fikry), remaja 16 tahun yang ibunya (Dian Sastrowardoyo) mengalami koma, dan bagaimana ia mencoba bertahan di tengah duka melalui kecanggihan teknologi.

Daripada menampilkan kesedihan yang meledak-ledak, film ini justru memotret duka yang tumbuh dalam diam dan keseharian — sebuah pendekatan yang reflektif namun mengena.

Ketika AI Menjadi Pengganti yang Menenangkan Tapi Menyesatkan

Dalam upaya menghindari kenyataan pahit, Rama bergantung pada sebuah teknologi kecerdasan buatan bernama i-BU, yang meniru suara, wajah, dan kepribadian sang ibu.

i-BU menjadi tempat berlindung yang memberi ilusi kehadiran sang ibu, menciptakan ruang aman yang membuat Rama merasa tidak benar-benar kehilangan.

"Film tidak menggambarkan i-BU sebagai ancaman, melainkan sebagai bentuk pelarian yang masuk akal bagi mereka yang belum ikhlas," demikian ditunjukkan lewat narasi halus film.

Namun ketergantungan Rama pada i-BU perlahan berubah menjadi kegelisahan ketika sistem mulai menuntut lebih banyak: data, emosi, dan ruang dalam hidupnya.

Hubungan antara manusia dan mesin pun semakin kabur, menciptakan ketegangan emosional yang tak terlihat namun membekas.

Film ini menggambarkan teknologi sebagai pisau bermata dua: mampu menenangkan sementara, tapi juga dapat memperpanjang masa duka jika menjadi pelarian utama.

Luka Lama dalam Relasi Ayah dan Anak

Koma sang ibu juga mengungkap luka lain dalam keluarga: hubungan Rama dengan sang ayah (Ringgo Agus Rahman).

Sejak awal, komunikasi emosional dalam keluarga mereka hanya berjalan lewat ibu.

Setelah ibu tidak sadar, Rama dan ayahnya harus berhadapan langsung dengan keheningan dan kesulitan memahami satu sama lain.

Pertengkaran demi pertengkaran muncul dari kegagalan komunikasi yang sudah lama tidak terselesaikan.

Film menyoroti realitas hubungan ayah dan anak laki-laki yang sering tersandera ekspektasi maskulinitas dan ketidakmampuan untuk mengungkapkan perasaan.

Pada titik ini, Esok Tanpa Ibu tampil lebih kuat sebagai film keluarga daripada film bertema teknologi.

Proses Berduka yang Tidak Bisa Dipercepat

Perjalanan Rama digambarkan sebagai cerminan tahapan berduka:

  • Penyangkalan lewat ketergantungan pada i-BU
  • Kemarahan dalam konflik dengan ayah
  • Tawar-menawar saat mencoba mempertahankan i-BU
  • Kesedihan saat menyadari bahwa teknologi tak bisa menggantikan manusia

Semua tahapan ini disampaikan secara subtil, lewat ekspresi tertahan, adegan hening, dan dialog yang tidak selalu selesai.

Salah satu momen paling berkesan hadir saat Rama memandangi taman bunga — sederhana, namun menjadi simbol pergeseran emosional dari penolakan menuju penerimaan.

Film memilih akhir yang tenang, tanpa solusi instan atau penutupan rapi.

Esok Tanpa Ibu menegaskan bahwa ikhlas adalah proses manusiawi yang tidak bisa diprogram, disalin, atau digantikan, sekalipun oleh AI tercanggih.

Alih-alih menolak kehadiran teknologi, film ini menempatkannya secara jujur sebagai alat bantu yang memiliki batas, terutama dalam menghadapi kehilangan.

Pada akhirnya, film ini mengingatkan: keberanian untuk merasakan duka dan melepaskan adalah sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh manusia.

 

Penulis :
Aditya Yohan