
Pantau - Pemerintah Kota Semarang menegaskan komitmennya menjaga eksistensi Kampung Batik Rejomulyo sebagai sentra batik ramah lingkungan dan pusat identitas Batik Semarangan, seiring revitalisasi kawasan yang dilakukan dalam rangka 20 tahun berdirinya kampung tersebut.
Produksi Ramah Lingkungan dan Dukungan Infrastruktur
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, menjelaskan bahwa salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah penerapan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di kawasan kampung batik.
Dengan adanya IPAL, para perajin kini dapat memanfaatkan pewarna alami dalam proses produksi tanpa mencemari lingkungan.
"Ada IPAL, jadi memang diniatkan untuk produksi batik dengan pewarna alam," ungkapnya.
Pemkot Semarang juga terus mendorong produksi yang ramah lingkungan namun tetap mempertahankan nilai-nilai tradisional batik lokal.
Pelestarian Sejarah Lewat Museum dan Revitalisasi Kawasan
Sebagai bagian dari pelestarian budaya, Pemkot turut menyambut baik inisiatif pelaku batik setempat untuk mendirikan Museum Batik Semarang.
Museum ini nantinya akan menampilkan replika batik-batik Semarangan dari era 1800–1900-an sebagai sarana edukasi dan pelestarian sejarah.
Revitalisasi Kampung Batik Rejomulyo juga dilakukan menyeluruh, termasuk penataan ulang kawasan, ruang pamer yang lebih bersih dan rapi, serta lingkungan yang representatif bagi perajin maupun pengunjung.
Melalui langkah-langkah tersebut, Pemkot berharap Kampung Batik Rejomulyo tidak hanya menjadi sentra produksi, tetapi juga destinasi budaya dan edukasi yang berkelanjutan.
- Penulis :
- Gerry Eka







