
Pantau - Psikolog anak Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim mengingatkan bahwa penggunaan gawai dan akses media sosial secara berlebihan dapat memberikan dampak negatif terhadap perilaku remaja.
Ia menjelaskan bahwa algoritma platform digital membuat remaja yang aktif di media sosial terus terpapar konten yang sesuai dengan minat mereka.
Rose Mini Agoes Salim mengatakan bahwa "Kalau dia senang gim, maka yang muncul terus gim. Kalau belanja, yang muncul terus belanja. Akhirnya dunianya hanya itu-itu saja".
Paparan konten yang terus berulang tersebut dapat membuat remaja sulit melepaskan diri dari layar.
Kondisi tersebut juga berisiko menimbulkan ketergantungan terhadap media sosial.
Ia juga menyampaikan bahwa kemudahan transaksi digital dapat memicu perilaku konsumtif pada remaja.
Rose Mini Agoes Salim mengatakan bahwa "Mereka tahu cara membelanjakan, tapi tidak tahu bagaimana mencari uangnya. Karena semua terasa mudah dan tidak terlihat".
Kondisi tersebut dapat memicu perilaku impulsif pada remaja yang menggunakan platform digital tanpa edukasi dan pengawasan dari orang tua.
Rose Mini menekankan pentingnya orang tua mengajarkan anak dan remaja untuk mengatur penggunaan gawai.
Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan membatasi penggunaan gawai hanya untuk keperluan sekolah atau kegiatan produktif.
Ia mengatakan bahwa "Yang perlu diajarkan adalah bagaimana menahan diri, bagaimana mengontrol penggunaan gadget supaya tidak berlebihan".
Orang tua juga perlu mendampingi dan mengawasi penggunaan platform digital oleh anak yang memasuki usia pra-remaja maupun remaja.
Ia menjelaskan keterampilan sosial serta kemampuan berpikir kritis dan kreatif pada remaja perlu terus diasah.
Jika remaja menghabiskan sebagian besar waktunya di platform digital, maka perkembangan kemampuan tersebut dapat menjadi tidak optimal.
Psikolog anak Alva Paramitha menjelaskan bahwa ketertarikan anak dan remaja terhadap media sosial berkaitan dengan sistem kerja otak serta perkembangan psikologis mereka.
Menurutnya sistem kerja otak anak dan remaja masih berkembang dan sangat sensitif terhadap stimulasi yang cepat.
Alva Paramitha mengatakan bahwa "TikTok dan reels Instagram dirancang dengan video pendek, scroll tanpa henti, dan notifikasi. Itu memberi instant reward sehingga memicu keinginan untuk terus melihat konten berikutnya".
Remaja yang berada pada fase pencarian identitas juga membutuhkan pengakuan dari lingkungan sosial.
Ia mengatakan bahwa "Ketika mendapat banyak likes atau komentar, muncul rasa diterima. Itu bentuk validasi yang membuat mereka ingin terus aktif".
Algoritma media sosial juga terus menampilkan konten yang relevan dengan minat pengguna.
Alva Paramitha mengatakan bahwa "Anak merasa kontennya menarik dan dekat dengan dirinya. Itu membuat mereka betah dan sulit berhenti".
Pemerintah telah memberlakukan peraturan untuk membatasi anak di bawah usia 16 tahun mengakses platform digital berisiko tinggi.
Kebijakan tersebut bertujuan melindungi anak dari paparan konten yang dapat berdampak buruk.
Para psikolog menekankan pentingnya peran orang tua dalam mendukung penerapan peraturan tersebut untuk melindungi anak di ruang digital.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf








