
Pantau - Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) Jakarta menilai tren menyewa tas mewah saat Lebaran sebagai bentuk adaptasi gaya hidup cerdas di tengah perubahan perilaku konsumen.
Ketua APPMI Jakarta Dana Duriyatna menyatakan "Kami melihat ini sebagai bentuk adaptasi gaya hidup yang cerdas. Konsumen sekarang semakin kritis dan mempertimbangkan nilai guna (value for money),".
Masyarakat kini dinilai mulai beralih dari membeli ke menyewa tas bermerek dan mewah untuk memenuhi kebutuhan penampilan saat momen tertentu.
Perubahan ini dipengaruhi oleh pertimbangan nilai guna karena barang mahal umumnya hanya digunakan satu atau dua kali, seperti saat silaturahmi Lebaran.
Dengan menyewa, konsumen tetap dapat tampil maksimal dengan biaya yang lebih terukur.
Fenomena ini disebut mencerminkan kedewasaan konsumen dalam mengelola anggaran tanpa mengorbankan penampilan.
Merek Lokal dan Internasional Jadi Primadona
Tas mewah yang diminati berasal dari merek desainer lokal papan atas hingga jenama internasional ternama.
Dana Duriyatna menyampaikan "Berdasarkan pengamatan kami, merek-merek desainer lokal papan atas dan jenama internasional ternama seperti tas desainer atau busana muslim premium tetap menjadi primadona. Di pasar lokal, karya desainer yang memiliki detail signature atau bahan yang terlihat mewah sangat diminati untuk momen foto keluarga atau open house,".
Permintaan meningkat terutama untuk kebutuhan foto keluarga dan acara open house selama Lebaran.
Dorong Fesyen Berkelanjutan
Fenomena sewa tas mewah juga dinilai sebagai solusi untuk mengurangi sampah fesyen.
Konsep ini sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular dalam industri fesyen.
Dengan sistem sewa, masa pakai produk menjadi lebih panjang karena digunakan bergantian oleh banyak orang.
Hal ini membantu menekan produksi berlebih dalam industri fesyen serta mengurangi limbah pakaian dan mikroplastik dari produksi massal.
Dana Duriyatna menyatakan "Ini langkah positif menuju industri fesyen yang lebih hijau,".
- Penulis :
- Ahmad Yusuf








