HOME  ⁄  Lifestyle

Ketog Semprong Festival Jadi Simbol Harmoni Budaya di Bedugul

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Ketog Semprong Festival Jadi Simbol Harmoni Budaya di Bedugul
Foto: (Sumber: Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta hadiri Ketog Semprong Festival atau tradisi lebaran ketupat khas Umat Muslim Desa Candikuning Tabanan, Denpasar, Minggu 12/4/2026. ANTARA/ho-Pemprov Bali.)

Pantau - Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta menilai Ketog Semprong Festival di Desa Candikuning, Tabanan, sejalan dengan visi pembangunan Bali yang menekankan harmoni dan pelestarian budaya.

Ketog Semprong merupakan tradisi Lebaran Ketupat umat Muslim di Desa Candikuning yang digelar di kawasan Kebun Raya Bedugul.

Tradisi ini menjadi ajang silaturahmi, makan bersama, serta pelestarian budaya lintas komunitas.

Nama Ketog Semprong berasal dari bahasa Bali yang berarti tumpah ruah.

Nilai harmoni tercermin dari keterlibatan berbagai kelompok usia dalam kegiatan tersebut.

Istilah nyama selam digunakan sebagai sebutan bagi umat Muslim di Bali.

Wagub menyatakan, "Ketog Semprong Festival sejalan dengan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali, semua sudah terakomodasi dalam kegiatan ini, mulai dari Atma Kerthi, Segara Kerthi, Danu Kerthi, Wana Kerthi, Jana Kerthi, hingga Jagat Kerthi,".

Ia menekankan bahwa menjaga nilai-nilai Bali merupakan tanggung jawab bersama seluruh masyarakat.

I Nyoman Giri Prasta juga menjelaskan asal-usul nama Bedugul sebagai simbol harmoni budaya.

Ia menyebut, "Asal-usul nama Bedugul tersebut menjadi bukti harmoni yang telah terjalin secara turun-temurun di salah satu kawasan wisata favorit ini,".

Kata Bedugul berasal dari gabungan bedug dan kulkul yang mencerminkan perpaduan budaya Muslim dan Bali.

Pemerintah Provinsi Bali berencana memasukkan festival ini ke dalam kalender kegiatan tahunan.

Dukungan pendanaan akan difasilitasi oleh pemerintah daerah, termasuk bantuan pribadi sebesar Rp50 juta dari Wagub.

Tokoh Muslim Candikuning, Ariel Dimitri Azkacetta, menyebut tradisi ini sebagai sarana menjaga kerukunan.

Ia mengatakan, "Dalam kegiatan ini, kita bertemu, bersalaman, dan saling mendoakan bukan hanya antar-keluarga atau warga, tetapi juga menjadi ruang pertemuan antara masyarakat dan pemimpin, sehingga bersama-sama dapat mewujudkan janji menjadi realisasi,".

Kegiatan ini menjadi kolaborasi lintas generasi dan lintas sektor serta mencerminkan semangat menyama braya antara masyarakat Muslim dan Bali.

Penampilan kesenian Bali turut meramaikan acara tersebut.

Masyarakat juga diajak menjaga kelestarian kawasan wisata Bedugul, dengan Desa Candikuning disebut sebagai jantung kawasan wisata yang memerlukan perhatian pemerintah.

Penulis :
Gerry Eka