Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Kemenag Perkuat Literasi Digital di Sekolah Agama untuk Tangkal Hoaks dan Kriminalitas

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Kemenag Perkuat Literasi Digital di Sekolah Agama untuk Tangkal Hoaks dan Kriminalitas
Foto: (Sumber: Staf Khusus Menteri Agama Bidang Kebijakan Publik, Media, dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Ismail Cawidu (dua dari kanan) dalam temu media di Lombok, NTB, Minggu (9/11/2025). ANTARA/Lintang Budiyanti Prameswari.)

Pantau - Kementerian Agama menegaskan pentingnya penguatan literasi digital di lingkungan pendidikan berbasis agama guna menangkal penyebaran hoaks serta menurunkan potensi kriminalitas di kalangan pelajar.

Literasi Digital Dianggap Kunci Cegah Hoaks dan Kejahatan

"Literasi digital itu kan bagaimana kita memberantas buta digital. Bayangkan kalau mereka menghadapi buta digital itu akan semakin meningkatkan orang terkena hoaks, kemudian bisa menjadi sumber kriminalitas," ungkap perwakilan Kemenag.

Tingkat literasi digital disebut sangat menentukan kemampuan seseorang dalam menyaring informasi yang diterima dan mencegah penyebaran konten menyesatkan.

"Semakin tinggi literasi digital itu akan semakin kecil kemungkinan orang itu menjadi korban dari hoaks maupun kriminal," lanjutnya.

Kemenag berkomitmen memperkuat materi literasi digital di sekolah-sekolah agama yang berada di bawah kewenangannya.

Langkah ini diperkuat melalui penandatanganan nota kesepahaman bersama Kementerian Komunikasi dan Digital untuk mendorong penyebaran literasi digital secara menyeluruh.

" Kami akan mendorong bagaimana supaya literasi digital itu bisa merata ke seluruh satuan-satuan kerja," tambahnya.

Jurnalis Diminta Sajikan Informasi Humanis dan Edukatif

Ismail Cawidu menyoroti peran penting jurnalis dalam menyebarkan informasi yang damai dan membangun nilai kemanusiaan.

"Kita perlu melakukan pendekatan jurnalistik yang humanis, angkatlah nilai-nilai kemanusiaan yang saling membantu dan saling menolong, bukan yang saling bermusuhan yang diangkat," ujarnya.

Jurnalis juga diharapkan menyajikan informasi yang berimbang, terlebih saat publik terpapar konten yang berpotensi menimbulkan konflik.

"Tokoh-tokoh agama ini banyak yang bisa tampil sebagai tokoh pembelajar, tokoh dharma, menganjurkan moralitas, kebenaran, kejujuran, kebaikan-kebaikan, itu sebenarnya yang lebih berarti. Jadi, bagaimana kita memposisikan diri kita hidup itu sebagai penjaga agama untuk bangsa," tegasnya.

Penulis :
Gerry Eka