
Pantau - Pemerintah Indonesia mendesak seluruh negara untuk segera menyelesaikan proses Global Stocktake (GST) guna menilai dan memperkuat upaya bersama dalam menurunkan emisi gas rumah kaca serta mengatasi perubahan iklim.
Seruan Indonesia di Forum COP30
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Hanif Faisol Nurofiq, menyampaikan pernyataan ini dalam Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-30 (COP30) yang digelar di Belém, Brasil, pada Senin, 17 November 2025 waktu setempat.
Hanif menyuarakan pandangan Indonesia dalam forum tingkat menteri bertajuk Nature Based Solutions High Level Implementation Roundtable.
"Indonesia meminta kepada semua agar kita segera menyelesaikan Global Stocktake sebagai landasan kita untuk memberikan nilai ukur terhadap gas rumah kaca yang kita timbulkan, dan bagaimana kita mengkompensasikannya," ungkapnya.
Kesenjangan Emisi dan Solusi Energi Terbarukan
Hanif menekankan bahwa hampir satu dekade setelah Perjanjian Paris, masih terdapat kesenjangan besar antara ambisi global dan pencapaian nyata dalam penurunan emisi.
"Hampir 10 tahun setelah Perjanjian Paris, kesenjangan antara ambisi kolektif kita dan kemajuan nyata masih sangat besar. Kesenjangan ini kini harus menjadi target aksi bersama. Oleh karena itu transparansi dalam hasil Global Stocktake sangat penting agar semua negara dan pemangku kepentingan memahami posisi kita dan apa yang harus dilakukan," ia mengungkapkan.
Lebih lanjut, ia menyebut implementasi energi terbarukan sebagai salah satu solusi utama untuk menutup kesenjangan tersebut.
"Peningkatan skala besar implementasi energi terbarukan dapat menjadi salah satu jawaban terkuat untuk menutup kesenjangan emisi tersebut. Dunia sangat perlu mengukur potensi penuh energi terbarukan di setiap negara, beserta kebutuhan teknologi dan pendanaan yang dibutuhkan untuk mewujudkannya," katanya.
Ia juga menyoroti tantangan pembiayaan yang masih dihadapi negara berkembang dalam proses transisi energi.
"Selama ini kita merasa bahwa untuk mentransformasi energi dari energi fosil kepada renewable energy biayanya sangat mahal. Ini yang menjadi kendala kita semua dalam mencapai tujuan Perjanjian Paris," Hanif menambahkan.
- Penulis :
- Shila Glorya









