
Pantau - Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyampaikan simpati dan duka cita mendalam kepada masyarakat yang terdampak berbagai bencana alam di sejumlah wilayah Indonesia, khususnya di kawasan Sumatera dalam beberapa waktu terakhir.
Bencana yang meliputi banjir bandang, tanah longsor, dan erupsi gunung berapi tersebut menyebabkan banyak korban jiwa serta kerusakan infrastruktur di Aceh, Sumatera Utara (Tapanuli Selatan, Sibolga), dan Sumatera Barat (Kabupaten Agam, Padang Pariaman).
"Kami menyampaikan simpati dan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada seluruh keluarga korban yang meninggal dunia dan yang kehilangan harta benda di wilayah terdampak," ungkap Sekretaris Dewan Pertimbangan MUI, Zainut Tauhid Sa’adi, dalam pernyataannya di Jakarta pada Sabtu.
Imbauan Spiritual dan Seruan Kepedulian
Dalam menghadapi situasi bencana ini, MUI mengimbau umat Islam dan masyarakat luas untuk memperbanyak doa dan istighfar guna memohon perlindungan kepada Tuhan.
"Seluruh umat Islam diimbau untuk memperbanyak doa, istighfar dan bermunajat kepada Allah SWT agar bencana alam segera diangkat, serta memohon perlindungan dan keselamatan bagi bangsa dan negara," ujarnya.
MUI juga mengajak masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana susulan yang mungkin terjadi akibat cuaca ekstrem.
Masyarakat diminta untuk mematuhi peringatan dini dari otoritas yang berwenang agar risiko bencana dapat diminimalisasi.
Dorongan Tindakan Konkret dan Mitigasi Jangka Panjang
MUI menyerukan seluruh elemen bangsa untuk bergotong-royong dan bahu-membahu dalam penanggulangan bencana, termasuk memberikan bantuan kepada para korban dan mendukung penyaluran logistik ke wilayah terdampak.
MUI juga mendorong pemerintah agar bertindak cepat, sigap, dan responsif dalam memberikan pertolongan, evakuasi, serta pelayanan kesehatan darurat.
Tak hanya dalam penanganan, MUI menekankan pentingnya edukasi dan sosialisasi mitigasi bencana secara masif dan berkelanjutan, terutama bagi masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana.
"Ini adalah saatnya kita bergotong-royong, saling menolong dan menunjukkan persatuan dan kekuatan sebagai bangsa. Bersatu dalam doa, bersatu dalam tindakan dan bersatu dalam kepedulian," tutur Zainut Tauhid menutup pernyataannya.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf







