
Pantau - Wakil Ketua III DPRD Kota Tangerang, Turidi Susanto, menyatakan dukungannya terhadap pembentukan Satgas Pelajar Anti Tawuran di setiap sekolah sebagai langkah pencegahan dini terhadap konflik antar pelajar.
Satgas ini bertujuan agar para pelajar dapat menjadi informan jika ada potensi konflik, baik di dalam maupun antar sekolah.
“Para pelajar memberikan penyuluhan tentang bahaya tawuran dan narkoba, menjadi duta perdamaian antar sekolah, serta mendorong aktivitas positif pembentuk karakter,” ujar Turidi.
Deklarasi 1.000 Pelajar Jadi Momentum Pembentukan Satgas
Pembentukan Satgas Pelajar Anti Tawuran merupakan tindak lanjut dari deklarasi 1.000 pelajar yang dilaksanakan pekan sebelumnya di Lapangan Sewindu Yonif Mekanis 203/Arya Kemuning, Kota Tangerang.
Sebanyak 1.000 pelajar tingkat SMP hingga SMA/SMK se-Kota Tangerang mengikuti kegiatan tersebut yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Kota Tangerang.
Dalam acara tersebut, peserta mengikuti berbagai kegiatan seperti pembentukan karakter, kegiatan pembiasaan, serta prosesi renungan malam.
“Pembentukan karakter pelajar adalah upaya nyata untuk mencegah tawuran, penyalahgunaan narkoba, dan perilaku negatif lainnya,” ucap Turidi.
Ketua Komisi I DPRD Kota Tangerang, Junadi, juga menyatakan dukungannya terhadap program tersebut karena dinilai efektif membangun karakter pelajar yang disiplin dan saling menghargai.
“Ini kegiatan yang bagus dan harus terus ditingkatkan. Kami sepakat kegiatan seperti ini layak menjadi contoh bagi daerah lain di Provinsi Banten,” ujarnya.
Wali Kota Tekankan Nilai Perdamaian dan Profil Pelajar Pancasila
Wali Kota Tangerang, Sachrudin, menegaskan bahwa deklarasi anti tawuran merupakan sarana penting untuk menanamkan nilai perdamaian di kalangan pelajar.
Ia juga menyebut bahwa kegiatan ini bertujuan menumbuhkan rasa persaudaraan antar sekolah serta memperkuat nilai-nilai luhur Pancasila.
“Setelah kegiatan ini, diharapkan pelajar tumbuh menjadi generasi dengan enam dimensi Profil Pelajar Pancasila: beriman, berakhlak mulia, menghargai keberagaman, gotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif,” kata Sachrudin.
- Penulis :
- Gerry Eka







