
Pantau - Konferensi Perubahan Iklim ke-30 Perserikatan Bangsa-Bangsa (COP30) resmi berakhir di Belem, Brasil, dengan Indonesia menegaskan posisinya sebagai pemain kunci dalam diplomasi iklim global.
Di tengah dinamika negosiasi internasional dan tantangan teknis selama penyelenggaraan, Indonesia menjalankan strategi diplomasi aktif melalui dua pendekatan: diplomasi lunak lewat Paviliun Indonesia dan diplomasi keras di meja perundingan.
Paviliun Indonesia hadir tidak hanya sebagai tempat pameran, tetapi juga sebagai simbol kepemimpinan Indonesia dalam membangun pasar karbon berintegritas tinggi dan ekonomi rendah emisi.
Paviliun Indonesia Jadi Etalase Diplomasi Hijau dan Kolaborasi Global
Selama dua pekan pelaksanaan KTT iklim, Paviliun Indonesia menghadirkan lebih dari 5.000 pengunjung dan menyelenggarakan lebih dari 50 sesi diskusi kebijakan interaktif dengan melibatkan 60 pembicara dari berbagai sektor.
Paviliun ini menampilkan inisiatif lintas sektor mulai dari kehutanan, transisi energi, pengelolaan limbah, hingga industri ramah lingkungan, serta memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia melalui seni pertunjukan, busana daerah, dan diplomasi kuliner.
Lebih dari 100 kerja sama strategis berhasil dijalin antara Indonesia dan mitra internasional selama COP30.
Salah satu sorotan utama adalah forum bisnis bertajuk "Carbon Connection for Climate Action", yang mempertemukan pemilik proyek karbon nasional dengan calon pembeli dan investor dari luar negeri.
Hasil forum tersebut menghasilkan Letter of Intent (LoI) untuk perdagangan karbon sebesar 2.754.680 ton CO₂e, mencakup 44 proyek dari 28 proponen di sektor energi, kehutanan dan penggunaan lahan (FOLU), serta pengelolaan sampah.
Kerja Sama Strategis dengan Norwegia: 12 Juta Ton CO₂
Prestasi besar lainnya adalah penandatanganan perjanjian kerja sama perdagangan karbon antara Indonesia dan Norwegia melalui kolaborasi PT PLN dan Global Green Growth Institute (GGGI).
Kesepakatan tersebut mencakup perdagangan karbon sebesar 12 juta ton CO₂, dan ditandatangani oleh Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq, Direktur Transmisi dan Perencanaan Sistem PT PLN Evy Haryadi, Executive Director GGGI Sang-Hyup Kim, dan Menteri Iklim dan Lingkungan Norwegia Andreas Bjelland Eriksen.
Capaian ini menegaskan kepercayaan global terhadap transparansi dan kredibilitas pasar karbon Indonesia.
Dari Negosiasi ke Implementasi Nyata
Keberhasilan Indonesia dalam COP30 menunjukkan bahwa negara ini tidak lagi berhenti pada negosiasi kebijakan, tetapi telah melangkah menuju implementasi konkret aksi iklim yang bernilai ekonomi.
Paviliun Indonesia menjadi ruang yang tidak hanya membawa gagasan, tetapi juga menyampaikan solusi dan aksi nyata untuk masa depan iklim dunia.
Pendekatan diplomasi budaya juga terbukti memperkuat hubungan emosional dengan komunitas internasional, mempertegas bahwa solusi iklim harus bersifat inklusif dan berakar dari identitas bangsa.
- Penulis :
- Gerry Eka







