Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Kemenperin dan Hippindo Perkuat Akses IKM Pangan Jadi Pemasok Ritel Modern

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Kemenperin dan Hippindo Perkuat Akses IKM Pangan Jadi Pemasok Ritel Modern
Foto: (Sumber: Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Reni Yanita, saat membuka Business Matching Sektor IKM Pangan dan Barang Gunaan dengan HIPPINDO dan Ekosistem Haji dan Umrah, di Kantor Kemenperin, Jakarta, Rabu (17/12/2025) (ANTARA/Muzdaffar Fauzan))

Pantau - Kementerian Perindustrian bekerja sama dengan Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia memperkuat akses industri kecil menengah sektor pangan agar dapat menjadi pemasok ritel modern dan industri besar.

Temu Bisnis Perluas Akses Pasar IKM

Penguatan akses tersebut dilakukan melalui kegiatan temu bisnis Business Matching sektor IKM Pangan dan Barang Gunaan dengan Hippindo yang digelar di Jakarta.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kemenperin Reni Yanita menyampaikan bahwa kegiatan tersebut sejalan dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian.

Pada kegiatan kemitraan tahun 2025, Ditjen IKMA melibatkan sebanyak 53 IKM pangan sebagai peserta Business Matching dengan Hippindo.

Reni Yanita mengatakan bahwa “Kemitraan tak sekadar hubungan bisnis, tetapi sebuah kewajiban strategis untuk menciptakan ekosistem industri yang lebih kokoh, berdaya saing, dan berkelanjutan, di mana setiap pelaku usaha kecil, menengah maupun besar, dapat tumbuh bersama dalam satu rantai nilai yang saling mendukung dengan sektor ekonomi lainnya,” ungkapnya.

Sektor industri pangan dipilih karena memberikan kontribusi besar terhadap industri pengolahan nonmigas dan perekonomian nasional.

Industri pangan tercatat menyumbang 37,87 persen terhadap subsektor industri pengolahan nonmigas atau setara 7,08 persen dari total PDB nasional pada triwulan III 2025.

IKM pangan memiliki peran strategis dengan jumlah sekitar 2,07 juta unit usaha di Indonesia.

Sektor tersebut juga menyerap tenaga kerja hingga 4,56 juta orang dan tergolong sebagai sektor padat karya.

Tantangan dan Penguatan Pembinaan IKM

Pada tahun sebelumnya, Kemenperin dan Hippindo telah melaksanakan Business Matching IKM Pangan dan Furnitur yang menghasilkan nilai transaksi potensial lebih dari Rp40 miliar.

Tindak lanjut dari kegiatan tersebut meliputi permintaan sampel produk, uji produk, negosiasi harga, hingga permohonan white label.

Reni Yanita mengakui masih terdapat tantangan dalam kemitraan, antara lain kendala administratif IKM.

Tantangan lainnya mencakup penyesuaian margin dengan skema pembelian ritel serta penyesuaian kemasan sesuai standar rak dan private label.

Menurutnya, tantangan tersebut menjadi bahan evaluasi Ditjen IKMA untuk memperkuat sistem pembinaan IKM secara berkelanjutan.

Upaya pembinaan tersebut meliputi pendampingan teknis, bantuan kesiapan legal dan dokumen usaha, serta peningkatan kualitas kemasan dan proses produksi.

Reni Yanita menegaskan bahwa “Sebagai tindak lanjut, Ditjen IKMA dan Hippindo telah menyepakati penguatan pembinaan, mulai dari pendampingan hingga kurasi IKM yang lebih tepat sasaran,” ujarnya.

Sektor ritel dinilai memiliki peran strategis sebagai penghubung antara produsen dan konsumen sekaligus motor penggerak pertumbuhan produk dalam negeri.

Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia mencatat Indeks Penjualan Riil pada September 2025 tumbuh 5,8 persen secara tahunan.

Pertumbuhan tersebut meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 3,5 persen.

Pertumbuhan sektor ritel terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman, tembakau, serta perlengkapan rumah tangga.

Struktur demografi Indonesia dengan kelas menengah berdaya beli tinggi turut memperkuat pertumbuhan ritel modern.

Generasi milenial dan generasi Z dinilai memiliki pola konsumsi modern, melek digital, dan semakin berpihak pada produk lokal.

Reni Yanita menyatakan bahwa “Kondisi tersebut menjadikan ritel modern sebagai jalur penting bagi IKM untuk memperluas pasar,” katanya.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang menilai IKM membutuhkan dukungan ekosistem yang kuat sebagai tulang punggung industri nasional.

Kemenperin secara konsisten melaksanakan program pembinaan berkelanjutan untuk meningkatkan daya saing IKM, termasuk melalui kegiatan temu bisnis dengan sektor ritel.

Penulis :
Aditya Yohan