Pantau Flash
HOME  ⁄  Nasional

Radius Setiyawan: Ruang Digital Kini Jadi Lahan Subur Ekstremisme Simbolik, Anak-anak Jadi Target Utama

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Radius Setiyawan: Ruang Digital Kini Jadi Lahan Subur Ekstremisme Simbolik, Anak-anak Jadi Target Utama
Foto: (Sumber: Pengkaji Budaya dan Media Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) Dr Radius Setiyawan. ANTARA/HO-Dokumen pribadi)

Pantau - Radius Setiyawan, akademisi dari Universitas Muhammadiyah Surabaya, menyoroti bahaya laten ruang digital sebagai arena baru bagi reproduksi kekerasan simbolik dan penyebaran ideologi ekstrem, seperti Neo-Nazi dan white supremacy, khususnya terhadap kelompok usia anak dan remaja.

Ia menegaskan bahwa ruang daring bukan lagi sekadar media komunikasi, tetapi telah menjadi ladang ideologis yang mampu memutar ulang simbol-simbol kebencian tanpa konteks sejarah yang memadai.

Simbol Ekstrem sebagai “Floating Signifier” di Ruang Daring

Radius menjelaskan bahwa media sosial, meme, video musik, dan komunitas daring tertentu dapat menyebarkan simbol kebencian seperti swastika atau lambang Neo-Nazi dalam kemasan budaya populer dan estetika gelap.

Simbol-simbol ini, dalam analisisnya, menjadi floating signifier—lambang yang maknanya lepas dari sejarah aslinya dan dapat diisi ulang dengan narasi baru seperti pemberontakan, anti-sistem, atau ekspresi identitas alternatif.

Anak-anak dalam Fase Rawan, Jadi Target Komunitas Ekstrem

Dalam konteks perkembangan psikososial, anak dan remaja adalah kelompok paling rentan karena berada dalam fase pencarian identitas.

Mereka mudah tertarik pada komunitas alternatif daring yang menawarkan rasa afiliasi dan pengakuan.

“Paparan terhadap ideologi ekstrem bisa terjadi tanpa disadari, karena narasinya dikemas secara ringan dan tidak serius—melalui meme, forum, bahkan estetika visual yang menarik,” paparnya.

Radius merujuk pada kasus nyata: 68 anak yang terlibat dalam komunitas True Crime Community (TCC)—sebuah forum yang diam-diam mempopulerkan supremasi kulit putih dan ideologi Neo-Nazi di Indonesia.

Literasi Kritis Jadi Solusi, Bukan Hanya Pelarangan

Menurutnya, pendekatan berbasis pelarangan atau kriminalisasi tidak akan cukup.

Ia mendorong hadirnya pendidikan literasi digital yang mengajarkan makna dan dampak sosial dari simbol ekstrem, serta sejarah kritis yang membekali anak memahami kekerasan di balik estetika tersebut.

“Etika sosial juga penting diajarkan, agar empati dan tanggung jawab kolektif bisa tumbuh,” tambahnya.

Tanggung Jawab Kolektif: Negara, Sekolah, dan Keluarga

Radius menyebut penanganan kasus ekstremisme digital tidak bisa diserahkan ke satu institusi saja.

Negara perlu membuat regulasi dan program literasi digital nasional.

Sekolah dan guru harus mengembangkan kurikulum yang mendidik berpikir kritis dan melek sejarah, sementara orang tua harus lebih terlibat dan memahami dunia digital anak-anak mereka.

Kesimpulan: Ekstremisme Kini Berwajah Estetik dan Viral

Kasus TCC dan anak-anak yang terpapar simbol ekstrem menjadi alarm penting bagi semua pihak.

Ekstremisme kini menyelinap ke ruang digital dalam bentuk yang viral, menipu, dan kadang dianggap estetis.

“Pendekatannya harus multidimensi: hukum, edukasi, budaya, dan sosial. Bukan satu, tapi semua harus jalan bersama,” tutup Radius.

Penulis :
Gerry Eka