Pantau Flash
HOME  ⁄  Nasional

Tahun 2026, Orang Tua Diminta Dampingi Remaja Bangun Karier Sejak Dini, Bukan Sekadar Pilih Cita-Cita

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Tahun 2026, Orang Tua Diminta Dampingi Remaja Bangun Karier Sejak Dini, Bukan Sekadar Pilih Cita-Cita
Foto: (Sumber: Ilustrasi - Pelajar memanfaatkan akses internet publik (JakWiFi) milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk belajar di Taman Puring, Jakarta Selatan, Kamis (16/10/2025). ANTARA FOTO/Bayu Pratama S.)

Pantau - Prof. Susanto, mantan Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), mengingatkan bahwa di tahun 2026, orang tua perlu mengarahkan anak remaja lebih dari sekadar memilih cita-cita, melainkan juga menyiapkan kapasitas diri untuk menghadapi dunia kerja yang berubah cepat.

Ia menekankan bahwa pertanyaan “mau jadi apa” sebaiknya dilengkapi dengan proses membentuk keterampilan dan pola pikir remaja agar mampu beradaptasi di masa depan.

Tantangan dan Kebutuhan Remaja dalam Dunia Kerja Baru

Menurut Prof. Susanto, perubahan dunia kerja dipicu oleh kemajuan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), kolaborasi global, serta berkembangnya ekonomi kreatif.

Hal ini menyebabkan banyak pekerjaan lama hilang, dan muncul jenis pekerjaan baru yang belum pernah terpikirkan sebelumnya.

Remaja usia 15 tahun ke atas, katanya, sudah seharusnya membangun fondasi karier jangka panjang, bukan hanya mencari jati diri.

Pertanyaan seperti “Isu apa yang saya pedulikan?” dan “Masalah apa yang ingin saya bantu selesaikan?” penting untuk membantu mereka menemukan arah.

Ia juga menekankan bahwa ijazah formal kini tak lagi cukup.

Remaja perlu dibekali dengan kemampuan belajar cepat, berpikir sistematis, komunikasi lintas media, literasi teknologi dan AI dasar, hingga kepemimpinan dan kerja kolaboratif.

Sekolah, menurutnya, idealnya menjadi “laboratorium karier” — tempat remaja bisa bereksperimen, memimpin, dan menyelesaikan masalah nyata, bukan hanya menyerap teori.

Dari Konsumen Digital Menjadi Kreator dan Pemikir Reflektif

Prof. Susanto mendorong remaja untuk aktif mencipta, seperti menulis opini, membuat video edukatif, desain grafis, membangun portofolio digital, dan mengikuti kelas daring yang terarah.

Ia menambahkan bahwa penting bagi remaja untuk rutin melakukan refleksi diri, mengenali kekuatan dan kelemahan, serta menyusun tujuan jangka pendek secara realistis.

Peran orang tua dan guru, lanjutnya, bukan untuk mendikte arah karier, melainkan sebagai fasilitator yang menumbuhkan kepercayaan diri anak untuk mencoba dan belajar dari kegagalan.

“Karier cemerlang tidak dibangun secara instan. Ia tumbuh dari kebiasaan belajar, keberanian mencoba, dan kemampuan beradaptasi yang dimulai sejak dini,” ungkapnya. 

Penulis :
Gerry Eka