
Pantau - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur resmi memperpanjang pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) hingga 31 Januari 2026 sebagai respons terhadap kondisi cuaca ekstrem yang melanda wilayah tersebut.
Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur, Gatot Soebroto, menyampaikan bahwa perpanjangan operasi ini merupakan langkah mitigasi untuk mengurangi dampak bencana akibat cuaca ekstrem.
"Keputusan memperpanjang OMC ini dilakukan atas arahan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, setelah melihat potensi cuaca ekstrem yang akan berlanjut hingga awal tahun 2026 ini," ungkapnya.
Potensi Cuaca Ekstrem Masih Tinggi
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda memperkirakan potensi curah hujan masih cukup tinggi pada dua bulan awal tahun ini.
"Diperkirakan, potensi curah hujan pada bulan Januari akan mencapai sekitar 58 persen dan pada bulan Februari sekitar 22 persen," jelas Gatot mengutip laporan BMKG.
OMC ini telah berlangsung sejak 1 Januari 2026, dan hingga saat ini telah dilakukan sebanyak tujuh sorti di sejumlah wilayah yang menjadi sasaran, antara lain bagian selatan Jawa Timur, selatan Pulau Madura, dan beberapa titik di wilayah barat Jawa Timur.
Sebelumnya, selama bulan Desember 2025, operasi OMC telah dilakukan sebanyak 50 sorti di berbagai wilayah Jawa Timur.
"Khusus untuk OMC sepanjang Desember 2025 lalu, jumlahnya mencapai 50 sorti dengan sasaran di berbagai wilayah di Jatim," ujar Gatot.
Mitigasi dan Antisipasi Dampak Bencana
Sebagai bagian dari strategi penanganan cuaca ekstrem, BPBD Jatim juga berkoordinasi dengan BPBD kabupaten/kota serta beberapa Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
"Atas arahan ibu gubernur, kami juga melanjutkan langkah strategis penanganan cuaca ekstrem, berupa operasi modifikasi cuaca (OMC) yang akan berlangsung hingga 31 Januari nanti," jelasnya.
Langkah-langkah yang dilakukan meliputi normalisasi dan pembersihan sungai, penyiagaan personel dan peralatan, serta pelatihan dan peningkatan kapasitas masyarakat.
Gatot juga memaparkan bahwa sepanjang tahun 2025 telah terjadi 531 kejadian bencana di Jawa Timur, yang sebagian besar merupakan bencana hidrometeorologi.
"Umumnya, bencana hidrometeorologi ini disebabkan karena cuaca ekstrem yang terjadi secara merata di Jawa Timur," tegas Gatot.
Rinciannya meliputi 149 kejadian banjir, 147 kejadian angin kencang, dan 21 kejadian tanah longsor yang tersebar di berbagai wilayah provinsi.
- Penulis :
- Shila Glorya








