
Pantau - Suku Dinas Lingkungan Hidup (Sudin LH) Jakarta Timur menargetkan penanganan lonjakan sampah di Pasar Induk Kramat Jati dapat diselesaikan dalam waktu lima hari ke depan.
"Untuk mengatasi kondisi tersebut, Sudin LH Jakarta Timur menargetkan penanganan perbantuan dapat dituntaskan dalam lima hari ke depan," demikian pernyataan resmi Sudin LH Jaktim.
Lonjakan volume sampah terjadi akibat musim buah yang menyebabkan peningkatan signifikan timbulan sampah di beberapa titik pasar.
Untuk menangani situasi tersebut, sebanyak 25 armada perbantuan dikerahkan guna mengangkut sampah secara intensif agar tidak mengganggu aktivitas perdagangan dan lingkungan sekitar.
Volume Sampah Naik Tajam, Armada Dikerahkan Dua Kali Sehari
Penanganan sampah di Pasar Induk Kramat Jati sebenarnya dilakukan setiap hari, namun saat musim buah, volume sampah bisa melonjak dari 160 ton menjadi sekitar 220 ton per hari.
Artinya, terdapat akumulasi atau “tabungan” sampah sekitar 60 ton per hari yang harus segera diatasi.
Sudin LH Jaktim memprioritaskan armada pengangkut untuk melakukan dua kali pengangkutan per hari menuju Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang.
Dalam pelaksanaan perbantuan ini, Sudin LH Jaktim mengerahkan 23 pengemudi, dua operator alat berat, dan empat pengawas lapangan.
Adapun armada yang digunakan terdiri dari 13 unit kendaraan berat (dump truck), 10 unit tronton, dan dua unit alat berat (shovel loader).
Penanganan Berdasarkan Regulasi, Pasar Tetap Wajib Kelola Sampah Mandiri
Penanganan sampah ini dilakukan sesuai Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2013 dan Peraturan Gubernur Nomor 102 Tahun 2021 yang mewajibkan kawasan komersial, termasuk pasar, mengelola sampah secara mandiri.
"Termasuk pasar, memiliki kewajiban untuk mengelola sampah secara mandiri, baik melalui pengelolaan internal maupun kerja sama dengan pihak ketiga," jelas Sudin LH Jaktim.
Meskipun demikian, Sudin LH memberikan bantuan karena Pasar Induk Kramat Jati merupakan fasilitas publik strategis.
Namun, pengelolaan sampah tetap menjadi tanggung jawab Perumda Pasar Jaya selaku pengelola pasar.
Keterbatasan Armada Jadi Kendala Utama
Pengelola pasar menjelaskan bahwa penumpukan sampah terjadi karena keterbatasan jumlah armada pengangkut yang tersedia.
"Kondisi yang terjadi sekarang ini memang idealnya dari 120 ton sampah yang ada, kita butuh setiap harinya itu 12 sampai dengan 15 armada. Namun demikian, maksimal yang bisa dilakukan oleh Sudin LH itu hanya sekitar delapan armada," ungkap pihak pengelola pasar.
Volume sampah harian pasar berkisar antara 120 hingga 150 ton, yang berasal dari aktivitas perdagangan yang berlangsung hampir 24 jam.
Setelah dikumpulkan di Tempat Penampungan Sementara (TPS), sampah kemudian diangkut ke TPST Bantar Gebang melalui kerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup.
Namun karena armada yang tersedia tidak mencukupi, tidak semua sampah dapat terangkut setiap hari, sehingga menyebabkan terjadinya penumpukan di kawasan pasar.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf








