Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Banjir Rusak 30 Ribu Hektare Tambak Budidaya Perikanan di Aceh

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Banjir Rusak 30 Ribu Hektare Tambak Budidaya Perikanan di Aceh
Foto: (Sumber: Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono (kedua kanan) meninjau lokasi budidaya terdampak banjir di Kabupaten Bireun, Aceh, Jumat (9/1/2026). ANTARA/HO-KKP..)

Pantau - Kementerian Kelautan dan Perikanan mencatat sekitar 30 ribu hektare tambak budidaya perikanan di Provinsi Aceh mengalami kerusakan akibat banjir yang melanda hampir seluruh wilayah daerah tersebut.

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menyampaikan temuan itu setelah meninjau langsung lokasi budidaya perikanan terdampak banjir di Kabupaten Bireun dan Aceh Utara pada Jumat 9 Januari 2026.

Tambak yang terdampak banjir tersebar di 16 kabupaten dan kota di Provinsi Aceh dengan tingkat kerusakan yang bervariasi.

Kabupaten Aceh Utara menjadi wilayah paling terdampak dengan luas tambak rusak tercatat lebih dari 10 ribu hektare.

Kabupaten Bireun berada di urutan kedua dengan kerusakan tambak sekitar 4,9 ribu hektare.

Kabupaten Aceh Tamiang menyusul dengan luasan tambak rusak mencapai sekitar 3,4 ribu hektare.

Sakti Wahyu Trenggono menjelaskan bahwa tingkat kerusakan tambak berkisar dari kategori ringan hingga sangat berat.

Tambak dengan kategori rusak sangat berat tercatat sekitar 300 hektare, sementara sisanya didominasi kerusakan ringan hingga berat.

Akibat kerusakan tersebut, lebih dari 30 ribu pembudidaya perikanan di Aceh mengalami kerugian.

Tambak-tambak yang rusak berada di wilayah daratan maupun pesisir dan mencakup berbagai komoditas budidaya.

Komoditas yang terdampak meliputi udang, bandeng, kakap, kerapu, lele, nila, mas, dan patin.

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan juga melaporkan kerusakan tambak akibat banjir mencapai sekitar 30 ribu hektare.

Pernyataan tersebut disampaikan saat meninjau lokasi budidaya perikanan terdampak banjir di Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, pada Kamis 8 Januari 2026.

Kementerian Kelautan dan Perikanan mencatat banjir besar yang disertai longsor menjadi penyebab utama kerusakan tambak dalam skala luas.

Beberapa tambak dilaporkan mengalami kerusakan sangat parah hingga rata dengan tanah akibat genangan lumpur yang terbawa banjir.

Penulis :
Ahmad Yusuf