
Pantau - Wakil Menteri Perdagangan RI, Dyah Roro Esti, bertemu dengan Ibu Negara Pakistan, Aseefa Bhutto Zardari, di Gedung Bilawal, Karachi, pada Sabtu (10/1/2026), dalam rangka memperkuat dan memperluas kerja sama bilateral antara Indonesia dan Pakistan.
Pertemuan ini menjadi tindak lanjut kunjungan Presiden RI Prabowo Subianto ke Pakistan pada 8–9 Desember 2025.
Fokus pada Perdagangan, Perempuan, dan Ketahanan Iklim
Dalam pertemuan tersebut, Indonesia mendorong peningkatan status Indonesia–Pakistan Preferential Trade Agreement (IP-PTA) menjadi Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) pada tahun 2027.
Langkah ini diharapkan dapat memberikan kepastian hukum yang lebih kuat sekaligus mendorong arus investasi dan perdagangan kedua negara.
Selain isu perdagangan, Dyah Roro dan Aseefa Bhutto membahas pemberdayaan perempuan, khususnya terkait praktik pembangunan rumah tangguh iklim yang melibatkan perempuan kepala keluarga di Provinsi Sindh, Pakistan.
Dyah Roro menyebut inisiatif tersebut sebagai contoh inspiratif dan sejalan dengan agenda pembangunan Indonesia yang inklusif.
Kedua pihak juga berdiskusi mengenai pembelajaran dari Pakistan pasca-banjir 2022 dalam membangun perumahan tahan iklim, serta peluang kerja sama dalam bidang pembangunan berkelanjutan dan ketahanan pangan.
Kerja sama ekonomi juga dibahas lebih lanjut, dengan fokus pada sektor minyak nabati (edible oil), investasi, serta penguatan rantai nilai dan ketahanan pangan jangka panjang.
Pesan Solidaritas dan Kedekatan Sosial Budaya
Kedua negara menekankan kesamaan nilai dalam membangun masyarakat yang inklusif dan berkeadilan.
Aseefa Bhutto menyambut baik kedekatan budaya dan hubungan leluhur yang mempererat diplomasi Indonesia–Pakistan.
Ia juga menyampaikan duka cita atas bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi di Pulau Sumatera, serta mengapresiasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) oleh pemerintah Indonesia.
Menurut Aseefa, program tersebut serupa dengan Benazir Income Support Programme milik Pakistan, dan mencerminkan kepedulian negara terhadap masyarakat kurang mampu.
- Penulis :
- Gerry Eka








