
Pantau - Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria membeberkan arah baru riset strategis nasional yang akan diwujudkan melalui tiga jalur utama.
Arif Satria menyampaikan penjelasan tersebut melalui keterangan di Jakarta pada Senin.
Ia menjelaskan jalur pertama adalah pemanfaatan riset dan inovasi untuk meningkatkan produktivitas usaha mikro kecil dan menengah melalui teknologi tepat guna yang sederhana dan aplikatif.
Jalur kedua diarahkan pada riset penguatan industri dan UMKM strategis berbasis teknologi menengah hingga teknologi tinggi.
Sementara itu, jalur ketiga dilakukan melalui pendekatan co-development termasuk penerapan reverse engineering.
Arif Satria menegaskan pentingnya penguasaan teknologi dalam kerja sama investasi asing.
Ia menyampaikan, “Kita tidak ingin investasi asing masuk, tetapi teknologinya tidak pernah kita kuasai. Itu strategi yang tidak berkelanjutan,” ungkapnya.
Skema Rumah Inovasi Indonesia dirancang sebagai pusat pertemuan antara inovator, industri, pemberi modal, dan pemerintah.
Melalui skema tersebut, BRIN menargetkan percepatan hilirisasi hasil riset.
Percepatan hilirisasi dilakukan melalui pengelolaan kekayaan intelektual.
Selain itu, BRIN juga mendorong inkubasi teknologi dan bisnis.
Skema tersebut mencakup business matching serta keterlibatan venture capital.
Arif Satria menilai tantangan utama riset saat ini terletak pada proses produksi dan akses masuk ke pasar.
Ia menyampaikan, “Riset sudah banyak. Tantangannya sekarang siapa yang memproduksi dan bagaimana masuk ke pasar. Karena itu, BRIN harus dekat dengan market,” katanya.
Replikasi tersebut dilakukan melalui penguatan peran BRIN daerah atau Brida.
Penguatan Brida bertujuan membangun ekosistem riset dan inovasi berbasis kebutuhan lokal.
Langkah tersebut juga diarahkan untuk mendukung perumusan kebijakan berbasis sains atau science-based policy.
Arif Satria menegaskan komitmen BRIN dalam memperkuat peran riset sebagai penggerak utama kedaulatan ekonomi dan ketahanan nasional.
Arah riset BRIN ditujukan untuk mendukung pencapaian visi Indonesia Emas 2045.
Ia menegaskan bahwa BRIN tidak hanya berfokus pada pengembangan teknologi keras.
BRIN juga mendorong riset lintas disiplin yang mencakup bidang sosial.
Selain sosial, riset lintas disiplin juga meliputi ekonomi, psikologi, dan politik.
Bidang lingkungan, keantariksaan, dan ketenaganukliran turut menjadi bagian dari fokus riset BRIN.
Arif Satria menegaskan pendekatan lintas disiplin diperlukan agar riset menjawab persoalan nyata masyarakat.
Ia menyampaikan, “Pendekatan ini diperlukan agar riset benar-benar menjawab persoalan nyata masyarakat dan berkontribusi langsung pada pembangunan nasional,” ujarnya.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf







