Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Ahli Gizi RSCM Ungkap Pangan Lokal Kaya Protein dan Kalsium Pengganti Susu Sapi untuk Anak

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Ahli Gizi RSCM Ungkap Pangan Lokal Kaya Protein dan Kalsium Pengganti Susu Sapi untuk Anak
Foto: (Sumber: Arsip Foto - Peserta menunjukkan sajian makanan berbahan baku ikan dalam Lomba Cipta Menu Ikan di Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Rabu (3/12/2025). (ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani))

Pantau - Ahli gizi Rumah Sakit Umum Pusat Nasional dr Cipto Mangunkusumo Jakarta Mita Arini menyampaikan bahwa pangan lokal Indonesia sangat kaya protein dan kalsium sehingga dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan gizi anak tanpa harus bergantung pada susu sapi.

“Sumber pangan lokal Indonesia sangat kaya untuk memenuhi kebutuhan protein dan kalsium anak tanpa harus bergantung pada susu sapi,” ungkap Mita Arini.

Ia menyebut tempe dan tahu sebagai sumber protein nabati yang mudah diperoleh oleh masyarakat.

Telur ayam dan daging ayam menjadi pilihan sumber protein hewani yang umum dikonsumsi anak.

Kacang-kacangan juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber protein nabati.

Ikan kembung disebut sebagai bahan pangan yang mengandung protein sekaligus kalsium.

Ikan lele termasuk sumber protein yang mudah diakses di berbagai daerah.

Ikan teri diketahui memiliki kandungan protein dan kalsium yang tinggi.

Mita Arini menjelaskan bahwa bahan pangan tersebut juga mengandung vitamin serta zat gizi mikro lainnya yang penting bagi tumbuh kembang anak.

Sayuran hijau juga dapat menjadi sumber kalsium alternatif bagi anak.

Daun katuk disebut sebagai salah satu sayuran hijau sumber kalsium.

Bayam juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber kalsium.

Brokoli menjadi pilihan sayuran lain yang mengandung kalsium.

Mita Arini menyampaikan bahwa sari kedelai yang kandungan gizinya telah diperkaya dapat menjadi alternatif pengganti susu sapi.

Ia menjelaskan bahwa kandungan protein dalam setiap 100 mililiter susu sapi segar sekitar 3,2 gram.

Kandungan protein sari kedelai sekitar 3,5 gram per 100 mililiter.

Sementara itu, susu almond hanya mengandung sekitar 0,6 gram protein.

Ia menegaskan bahwa susu almond tidak dapat dijadikan sebagai sumber protein utama bagi anak.

“Perlu diingat bahwa protein yang berasal dari sumber hewani memiliki asam amino yang lebih lengkap dibandingkan protein nabati sehingga sangat baik untuk menunjang pertumbuhan anak,” ujar Mita Arini.

Ia juga mengingatkan orang tua untuk mewaspadai kemungkinan alergi anak dalam memilih sumber protein dan kalsium pengganti susu sapi.

Reaksi alergi dapat berupa ruam merah pada kulit, rasa gatal, atau biduran.

Gejala alergi juga dapat berupa muntah, diare, dan perut kembung.

Batuk atau sesak napas dapat terjadi setelah anak mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung alergen.

“Pada beberapa anak juga bisa terjadi pembengkakan di bibir atau kelopak mata serta rewel berlebihan,” ungkap Mita Arini.

Mita Arini menekankan pentingnya penerapan pola makan bergizi seimbang sesuai pedoman Isi Piringku dari Kementerian Kesehatan.

Pedoman Isi Piringku mencakup makanan pokok sebagai sumber karbohidrat.

Isi Piringku juga mencakup lauk pauk sebagai sumber protein.

Sayuran dan buah-buahan termasuk dalam Isi Piringku sebagai sumber vitamin dan mineral.

“Dengan kombinasi pangan lokal ini kebutuhan gizi anak tetap dapat terpenuhi secara optimal,” kata Mita Arini.

Penulis :
Ahmad Yusuf