Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Cegah Kematian Akibat Kelelahan, Kemenkes Imbau Jemaah Haji Batasi Walimatus Safar

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Cegah Kematian Akibat Kelelahan, Kemenkes Imbau Jemaah Haji Batasi Walimatus Safar
Foto: (Sumber: Ilustrasi - Suasana walimatus safar jemaah calon haji Kabupaten Bangka Barat yang digelar di rumah dinas Bupati, Kamis (19/7). ANTARA/Donatus Dasapurna Putranta)

Pantau - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengimbau calon jemaah haji Indonesia tahun 2026 untuk membatasi tradisi walimatus safar atau syukuran keberangkatan haji paling lambat tujuh hari sebelum berangkat ke Tanah Suci.

Imbauan ini disampaikan untuk mencegah kelelahan berlebihan yang dapat membahayakan kesehatan jemaah bahkan sebelum sampai di Arab Saudi.

Kelelahan Akibat Tradisi Berlebihan Bisa Berujung Kematian

Kepala Pusat Kesehatan Haji Kemenkes, Liliek Marhaendro Susilo, mengungkapkan bahwa kegiatan walimatus safar yang berlebihan dapat berdampak fatal.

"Jemaah itu kelelahan karena tujuh hari tujuh malam open house menerima tamu untuk walimatus safar. Sampai di pesawat dia kelelahan, mau ke toilet tidak sempat menunggu, akhirnya pingsan dan tidak tertolong. Itu contoh yang kita tidak harapkan terulang," ungkapnya.

Kasus tersebut menjadi peringatan serius karena jemaah tersebut meninggal dunia di dalam pesawat dalam perjalanan menuju Madinah.

Kemenkes meminta agar jemaah dan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) mengatur seluruh kegiatan seremonial secara bijak dan tidak berlarut-larut menjelang keberangkatan.

Prioritaskan Istirahat dan Persiapan Fisik Jelang Keberangkatan

Liliek menjelaskan bahwa masa tujuh hari terakhir sebelum keberangkatan sangat penting untuk istirahat total.

"Kami mohon, walimatus safar ini kalau bisa diadakan sesederhana mungkin. Ini sebenarnya acara tradisi, bukan sunnah. Tolong dilakukan maksimal satu minggu sebelum berangkat. Jangan lebih dari itu, supaya seminggu terakhir jemaah benar-benar menggunakan waktunya untuk istirahat total," jelasnya.

Kemenkes menyarankan agar masa tenang H-7 hanya digunakan untuk aktivitas ringan seperti mengemas barang, menjaga pola tidur, serta memperhatikan asupan gizi.

Menurut Liliek, ibadah haji adalah ibadah fisik yang berat dengan tantangan cuaca ekstrem, sehingga jemaah harus dalam kondisi fisik dan mental yang prima saat berangkat.

Jika energi jemaah sudah terkuras sebelum keberangkatan karena aktivitas sosial dan menerima tamu, risiko sakit atau bahkan meninggal dunia dalam perjalanan akan meningkat drastis.

Penulis :
Ahmad Yusuf