
Pantau - Kartu pintar atau smart card yang dikenal sebagai kartu nusuk akan mulai dibagikan kepada jamaah haji Indonesia sejak masih berada di tanah air, sebagai bagian dari kebijakan baru untuk memperlancar pelaksanaan ibadah haji tahun ini.
Staf Teknis KJRI Jeddah, Hasyim Hilaby, menyampaikan bahwa langkah ini bertujuan memberikan ketenangan psikologis kepada jamaah sebelum berangkat ke Tanah Suci.
Legalitas dan Akses Ibadah Haji Dijamin Lewat Kartu Nusuk
Dengan memegang kartu nusuk dari Indonesia, jamaah dipastikan memiliki akses legal ke wilayah-wilayah penting selama pelaksanaan haji, seperti Makkah, Madinah, serta terutama Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
"Pentingnya nusuk bagi haji adalah sebagai akses legalitas jamaah Indonesia. Kartu ini menjadi simbol dan filter agar tidak ada orang-orang ilegal yang masuk dan mengganggu rotasi perjalanan jamaah haji resmi saat beribadah," ungkapnya.
Kartu nusuk bukan hanya berfungsi sebagai identitas, tetapi juga menjadi “kunci” untuk mengakses lokasi utama pelaksanaan ibadah haji.
Distribusi kartu sejak dari Indonesia diharapkan mampu mengurangi potensi kendala teknis maupun keterlambatan distribusi yang biasanya terjadi jika pembagian dilakukan setelah tiba di Arab Saudi.
Aktivasi kartu juga akan dilakukan di Indonesia, dan jika terjadi masalah saat digunakan di Arab Saudi, tim teknis telah disiapkan untuk memberikan bantuan secara langsung di lapangan.
Tidak Wajib Gunakan Aplikasi, Kartu Fisik Tetap Utama
Di tengah kekhawatiran sebagian jamaah, terutama lansia, terhadap penggunaan teknologi digital seperti aplikasi nusuk di ponsel, pihak KJRI Jeddah memastikan bahwa penggunaan aplikasi tersebut tidak diwajibkan bagi jamaah haji reguler.
"Tidak, tidak diharuskan. Aplikasi yang di HP itu ibaratnya hanya sebagai backup saja," jelas Hasyim.
Ia menjelaskan bahwa aplikasi nusuk lebih berfungsi sebagai cadangan, misalnya jika jamaah tersesat atau lupa membawa kartu fisik saat keluar dari penginapan.
Untuk kebutuhan utama ibadah dan mobilitas selama haji, kartu fisik tetap menjadi alat utama.
Identitas jamaah Indonesia juga mudah dikenali tanpa aplikasi, karena mereka menggunakan seragam batik haji khas Indonesia yang sudah dikenal luas oleh petugas keamanan Arab Saudi maupun masyarakat setempat.
Hasyim juga menambahkan bahwa kekhawatiran terbesar bukan terletak pada penggunaan aplikasi, melainkan potensi masuknya pihak yang bukan jamaah resmi ke dalam area hotel jamaah haji.
Penjelasan ini diharapkan dapat meredakan kecemasan jamaah, terutama terkait aspek teknis, sehingga mereka dapat lebih fokus dalam menjalankan ibadah.
- Penulis :
- Aditya Yohan





