
Pantau - Akademisi Universitas Islam Negeri KH Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, Muridan, mengajak umat Islam untuk merawat disiplin spiritual dan sosial melalui pemaknaan reflektif terhadap peristiwa Isra Miraj Nabi Muhammad SAW.
"Isra Miraj tidak cukup dipahami sebagai peristiwa spiritual semata, tetapi sebagai pesan etis tentang bagaimana iman diwujudkan dalam disiplin hidup dan kepedulian sosial," ungkapnya.
Ia menyampaikan bahwa perintah shalat lima waktu yang diterima Rasulullah SAW dalam peristiwa Isra Miraj menjadi fondasi utama bagi disiplin dalam Islam.
Shalat menurutnya mengatur waktu, menata gerak, dan melatih konsistensi dalam kehidupan sehari-hari.
Shalat Sebagai Pendidikan Karakter dan Etika Sosial
Muridan menegaskan bahwa shalat bukan hanya kewajiban ritual, tetapi juga bentuk pendidikan karakter yang terus berlangsung.
Disiplin waktu, keteraturan, dan kekhusyukan yang dilatih melalui shalat seharusnya tercermin dalam sikap hidup umat Islam di berbagai bidang.
"Shalat melatih keteraturan dan konsistensi, sehingga nilai-nilainya semestinya tercermin dalam etos kerja, tanggung jawab dan integritas sosial," ujarnya.
Ia menilai bahwa disiplin spiritual kerap berhenti pada kesalehan personal, sementara etika sosial sering tertinggal.
Padahal, Al-Quran mengaitkan shalat dengan pencegahan terhadap perbuatan keji dan mungkar.
Nilai dari shalat tidak boleh berhenti hanya di atas sajadah, tetapi harus menjangkau ke ranah sosial, ekonomi, dan budaya untuk membentuk perilaku yang beradab dalam kehidupan bersama.
"Jika shalat dijalankan secara utuh, semestinya mencegah ketidakjujuran, ketidakdisiplinan, dan pengabaian terhadap amanah publik," katanya.
Spirit Isra Miraj Relevan Hadapi Tantangan Zaman
Muridan mengajak agar Isra Miraj dibaca secara kontekstual agar relevan dengan tantangan zaman.
Setelah menerima perintah shalat, Nabi Muhammad SAW tidak menetap di langit, melainkan kembali ke bumi dan masyarakat.
Peristiwa itu menurutnya menjadi simbol bahwa spiritualitas sejati tidak mengasingkan diri, melainkan memperkuat keberpihakan terhadap realitas sosial yang dihadapi umat.
"Ini pesan penting bahwa perjalanan spiritual harus berujung pada penguatan tanggung jawab sosial," jelasnya.
Ia menyoroti bahwa kondisi masyarakat saat ini banyak diwarnai oleh ketidakdisiplinan, berkurangnya rasa tanggung jawab, dan memudarnya etika publik, meskipun simbol-simbol religius tetap terlihat kuat.
Menurutnya, persoalan ini muncul ketika agama dipahami sebagai tradisi beku, bukan sebagai dialog yang hidup dan terus ditafsirkan ulang sesuai konteks zaman.
"Ketika agama berhenti sebagai simbol, nilai etisnya tidak lagi bekerja dalam kehidupan sehari-hari," tegasnya.
Spirit Isra Miraj, kata dia, mendorong umat Islam untuk mendialogkan shalat dengan realitas sosial.
Contoh penerapannya adalah ketepatan waktu dalam bekerja, kejujuran dalam memikul amanah, serta disiplin dalam tanggung jawab publik.
Nilai-nilai ini akan membentuk etika sosial tanpa harus selalu disampaikan lewat khutbah panjang, melainkan melalui keteladanan nyata.
"Ketika disiplin spiritual hidup, etika sosial akan tumbuh secara alami," ujarnya.
Ia juga menyatakan bahwa pesan Isra Miraj sangat relevan untuk menghadapi tantangan etika di era digital, termasuk maraknya ujaran kebencian dan disinformasi di media sosial.
Kesalehan menurutnya tidak hanya diuji di ruang ibadah, tetapi juga di ruang digital melalui cara berbicara, berbagi informasi, dan bersikap di tengah perbedaan.
"Kesalehan hari ini juga diuji di media sosial, apakah kita mampu menjaga adab dan tanggung jawab moral," pungkasnya.
Isra Miraj, menurut Muridan, mengajarkan keseimbangan antara penguatan iman dan penataan kehidupan sosial, sehingga menjadi sumber energi moral dan penuntun etis bagi peradaban.
- Penulis :
- Aditya Yohan







