Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Riset BRIN Ungkap Emisi Karbon Lamun Tertinggi Berasal dari Pesisir Jawa dan Sumatra

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Riset BRIN Ungkap Emisi Karbon Lamun Tertinggi Berasal dari Pesisir Jawa dan Sumatra
Foto: (Sumber: Foto udara sebuah alat berat beroperasi di kawasan Hutan Mangrove Sriwulan Terboyo, Semarang, Jawa Tengah, Jumat (12/9/2025). Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat Indonesia memiliki hutan bakau seluas 3,4 juta hektare dan padang lamun (Seagress) seluas 1,8 juta hektare yang unggul dalam menyerap serta dapat menyimpan karbon dioksida hingga usia ribuan tahun sedimen, dan ketahanannnya jauh melebihi ekosistem daratan. ANTARA FOTO/Makna Zaezar ..)

Pantau - Badan Riset dan Inovasi Nasional menemukan faktor emisi karbon dari ekosistem lamun di Indonesia tidak seragam, dengan wilayah Jawa dan sebagian Sumatra tercatat sebagai penyumbang emisi tertinggi akibat degradasi padang lamun.

Temuan tersebut disampaikan Peneliti Pusat Riset Oseanologi BRIN Aan Johan Wahyudi melalui keterangan resmi di Jakarta.

Aan menjelaskan degradasi padang lamun di wilayah barat Indonesia berpotensi melepaskan karbon ke atmosfer dalam jumlah yang lebih besar dibandingkan kawasan pesisir lainnya.

Faktor Emisi Karbon Lamun Berbeda Antarwilayah

Dalam konsep karbon biru, Aan menekankan perhitungan tidak hanya berfokus pada penyerapan karbon, tetapi juga pada emisi karbon yang dilepaskan ke atmosfer.

Faktor emisi karbon didefinisikan sebagai jumlah karbon yang dilepaskan ke atmosfer per satuan luas ekosistem per tahun akibat degradasi.

Dalam ekosistem lamun, faktor emisi menunjukkan laju kehilangan karbon yang sebelumnya tersimpan dalam biomassa lamun dan sedimen pesisir.

Faktor emisi juga mencerminkan proses awal pelepasan karbon dari sistem pesisir ketika ekosistem mengalami gangguan.

Penelitian ini menggunakan metode chronosequence modeling dengan membandingkan kondisi padang lamun yang masih baik dengan yang telah terdegradasi.

Pendekatan tersebut bertujuan memperkirakan perubahan cadangan karbon dari waktu ke waktu akibat tekanan lingkungan.

Hasil analisis menunjukkan faktor emisi karbon lamun di Indonesia berkisar antara 0,53 hingga 3,25 ton karbon per hektare per tahun.

Nilai faktor emisi tertinggi ditemukan di wilayah dengan tekanan pesisir yang tinggi, khususnya di Jawa dan sebagian Sumatra.

Sebaliknya, wilayah Nusa Tenggara, sebagian Sulawesi, dan Maluku tercatat memiliki faktor emisi karbon yang relatif lebih rendah.

Tekanan Pesisir Picu Pelepasan Karbon

Aan menjelaskan tingginya kepadatan penduduk dan aktivitas manusia meningkatkan tekanan antropogenik di wilayah pesisir.

Aktivitas seperti reklamasi, pengerukan, dan peningkatan sedimentasi dapat memicu degradasi padang lamun.

Gangguan tersebut menghambat pertumbuhan lamun dan menyebabkan karbon yang tersimpan dilepaskan ke atmosfer.

Lamun memiliki kemampuan menyaring sedimen, namun kemampuan tersebut memiliki batas tertentu.

Masuknya sedimen dalam jumlah berlebihan dapat mengganggu keseimbangan ekosistem lamun.

Dalam kondisi sehat, lamun berfungsi menyerap dan menyimpan karbon di dalam biomassa dan sedimen.

Ketika lamun rusak, bagian daun dan akar mengalami pembusukan.

Proses dekomposisi inilah yang melepaskan karbon dioksida ke atmosfer.

Riset BRIN ini menegaskan pentingnya perlindungan ekosistem lamun sebagai bagian dari strategi pengendalian emisi karbon di Indonesia.

Penulis :
Ahmad Yusuf