Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

DKI Jakarta Waspadai Ancaman Superflu dan Lonjakan DBD Selama Musim Hujan

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

DKI Jakarta Waspadai Ancaman Superflu dan Lonjakan DBD Selama Musim Hujan
Foto: (Sumber: Arsip foto - Petugas melakukan pengasapan untuk mencegah mencegah penyebaran penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di SDN Pasar Minggu 03, Jakarta Selatan, Kamis (4/4/2024). ANTARA FOTO/ Erlangga Bregas Prakoso/nym/aa..)

Pantau - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mewaspadai potensi munculnya kasus superflu dan peningkatan demam berdarah dengue (DBD) seiring berlangsungnya musim hujan di wilayah ibu kota.

Gubernur DKI Jakarta Pramono menyatakan telah menginstruksikan Dinas Kesehatan DKI Jakarta untuk memantau secara khusus dua penyakit tersebut.

Pramono mengatakan, "Saya sudah meminta kepada Dinas Kesehatan selalu memantau dua hal. Satu yang berkaitan dengan superflu, yang satu berkaitan dengan DBD," ungkapnya.

Hingga saat ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta belum menemukan adanya kasus superflu di wilayah Jakarta.

Pramono berharap Jakarta dapat terbebas dari superflu meskipun tengah berada dalam kondisi musim hujan.

Untuk kasus DBD, Pramono menyebut peningkatan kasus cukup banyak terjadi di wilayah Jakarta Barat dan Jakarta Utara.

Meski demikian, Pramono meyakini Dinas Kesehatan DKI Jakarta mampu menangani lonjakan kasus DBD dengan dukungan fasilitas kesehatan yang memadai.

"Kalau DB saya yakin untuk penanganan di Jakarta sudah berjalan cukup baik. Apalagi fasilitas kita, hal yang berkaitan dengan DB, baik itu Puskesmas Pembantu, Puskesmas, Rumah Sakit, semuanya sudah ada untuk rujukannya," ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Barat Sahruna mengungkapkan tren kasus DBD di wilayahnya mengalami peningkatan pada periode Oktober hingga Desember 2025.

Untuk periode 1 Januari hingga 15 Januari 2026 pukul 16.00 WIB, tercatat sebanyak 19 kasus DBD di Jakarta Barat.

Kasus DBD terbanyak ditemukan di wilayah Kebon Jeruk dengan tujuh kasus, disusul Kembangan dengan empat kasus, Kalideres tiga kasus, dan Tambora dua kasus.

Satu kasus DBD masing-masing tercatat di wilayah Taman Sari, Grogol Petamburan, dan Cengkareng, sementara wilayah Palmerah dilaporkan nihil kasus.

Sahruna menjelaskan kondisi iklim Januari 2026 berpotensi memicu perkembangan nyamuk Aedes aegypti berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika.

"Kelembaban udara diperkirakan mencapai 82 persen, berada dalam rentang kelembaban optimum nyamuk, yakni 71-83 persen, dengan suhu berkisar 24 hingga 31 derajat Celsius," jelasnya.

Upaya pengendalian DBD terus dilakukan melalui pemantauan vektor atau jentik nyamuk dengan mengutamakan peran aktif masyarakat dalam pencegahan penyebaran penyakit tersebut.

Penulis :
Aditya Yohan