Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Papua Barat Tuan Rumah Dua Forum Internasional tentang Keanekaragaman Hayati dan Solusi Iklim Berbasis Alam

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Papua Barat Tuan Rumah Dua Forum Internasional tentang Keanekaragaman Hayati dan Solusi Iklim Berbasis Alam
Foto: Pemerintah Provinsi Papua Barat menggelar rapat persiapan pelaksanaan kegiatan Flora Malesiana Symposium ke-12 dan International Nature-Based Climate Solutions Conference di Manokwari, Rabu 21/1/2026 (sumber: ANTARA/Fransiskus Salu Weking)

Pantau - Pemerintah Provinsi Papua Barat tengah mematangkan persiapan untuk menjadi tuan rumah dua kegiatan internasional berbasis alam yang akan digelar di Manokwari pada 9–14 Februari 2026.

Dua kegiatan tersebut adalah Flora Malesiana Symposium ke-12 dan International Nature-Based Climate Solutions Conference, yang akan menghadirkan para ilmuwan, peneliti, pembuat kebijakan, dan praktisi lingkungan dari dalam dan luar negeri.

Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Papua Barat, Charlie Danny Heatubun, menyatakan bahwa, "Manokwari, Papua Barat mendapat kepercayaan menjadi tuan rumah dua event internasional."

Forum Ilmiah tentang Keanekaragaman Hayati

Flora Malesiana Symposium merupakan forum ilmiah internasional yang membahas penelitian, dokumentasi, dan pelestarian keanekaragaman tumbuhan di kawasan Malesia.

Kawasan Malesia dikenal sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati dunia, meliputi tujuh negara yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina, Brunai Darussalam, Papua Nugini, Timor Leste, dan Singapura.

Menurut Charlie Danny Heatubun, "Tentu saja dalam forum itu akan ada laporan terbaru yang bermanfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan pengambilan kebijakan."

Solusi Iklim Berbasis Alam

Sementara itu, International Nature-Based Climate Solutions Conference akan membahas berbagai pendekatan penanganan perubahan iklim dengan solusi berbasis alam yang berkelanjutan.

Konferensi ini bertujuan membahas riset terbaru sebagai langkah mitigasi perubahan iklim berbasis alam, mengurangi emisi gas rumah kaca, serta meningkatkan ketahanan terhadap dampak iklim.

Forum ini juga menjadi wadah pertemuan antara peneliti, pembuat kebijakan, dan praktisi lingkungan untuk bersama-sama merumuskan solusi iklim.

"Adaptasi dan pengendalian dalam perubahan iklim itu sangat diperlukan," tambah Charlie Danny Heatubun.

Panitia juga telah menyiapkan sejumlah kegiatan tambahan, seperti Papua Biocultural and Climate, pemutaran film bertema lingkungan dan konservasi, pameran foto, serta lokakarya jurnalisme lingkungan.

Seluruh sesi kegiatan akan dirangkum dalam bentuk rekomendasi dan diserahkan kepada pemerintah daerah sebagai acuan dalam menyusun program pembangunan ke depan.

Target peserta dua kegiatan internasional ini diperkirakan mencapai 250–300 orang dari dalam dan luar negeri.

Asisten Bidang Administrasi Umum Sekretaris Daerah Papua Barat, Otto Parorongan, menyatakan, "Ini event besar jadi perlu persiapan yang matang supaya ada hasil yang mengesankan bagi setiap peserta."

Ia juga menekankan pentingnya penyusunan konsep seluruh sesi secara maksimal, termasuk pendataan seluruh akomodasi bagi peserta dan tamu undangan.

Penulis :
Arian Mesa