
Pantau - Kebakaran depot minyak di Kota Penza, Rusia, akibat serangan drone Ukraina pada Jumat pagi, 23 Januari 2026 waktu setempat, dinilai dapat berdampak tidak langsung terhadap perekonomian Indonesia melalui jalur harga energi global.
Efek Geopolitik ke Ekonomi Indonesia
Ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet, menjelaskan bahwa dampak ketegangan geopolitik ini memang tidak langsung, namun tetap harus diantisipasi karena Indonesia masih mengimpor sebagian besar kebutuhan minyaknya.
"Kita masih net importir minyak, jadi ketika harga global naik, biaya impor energi ikut naik. Efek lanjutannya bisa terasa ke ongkos transportasi, logistik, sampai harga barang, yang ujung-ujungnya menekan inflasi dan daya beli," ungkapnya.
Secara global, insiden kebakaran di depot minyak Rusia kali ini kemungkinan tidak langsung memangkas pasokan dunia dalam skala besar.
Namun, pasar energi sangat sensitif terhadap gangguan dari negara produsen besar seperti Rusia.
"Risiko geopolitik naik, investor minta premi lebih tinggi, dan itu biasanya membuat harga minyak dunia lebih mudah terdorong naik dan jadi lebih volatil," ia mengungkapkan.
Jika pemerintah Indonesia mempertahankan harga bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri agar tidak naik, maka beban subsidi akan meningkat dan memberi tekanan pada fiskal negara.
"Jadi, walaupun jangka pendek mungkin masih terkendali, kalau konflik dan serangan ke infrastruktur energi Rusia berlanjut, risikonya ke ekonomi domestik akan makin terasa," tambah Yusuf.
Langkah Antisipatif Pemerintah
Untuk mengurangi dampak tekanan global tersebut, Yusuf menekankan pentingnya diversifikasi sumber impor energi agar Indonesia tidak bergantung pada satu kawasan yang rawan konflik.
Selain itu, cadangan strategis minyak nasional juga harus diperkuat sebagai bantalan ketika harga global mengalami lonjakan mendadak.
Percepatan transisi energi menjadi hal krusial dalam jangka menengah dan panjang untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor.
Pengembangan energi terbarukan seperti biofuel, gas, dan sumber energi alternatif lainnya dinilai menjadi langkah strategis.
"Terakhir, kebijakan fiskal harus fleksibel, dengan subsidi yang tepat sasaran, supaya stabilitas harga terjaga tanpa membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)," jelas Yusuf.
- Penulis :
- Shila Glorya







