Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Mendikdasmen Tegaskan Penguasaan AI Harus Disertai Kompetensi dan Keadaban Digital

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Mendikdasmen Tegaskan Penguasaan AI Harus Disertai Kompetensi dan Keadaban Digital
Foto: (Sumber: Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti dalam seminar nasional bertajuk "AI dan Peningkatan Mutu Pendidikan untuk Semua" di Ballroom Gedung IKA Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Sabtu (24/1/2026). ANTARA/HO-UNY.)

Pantau - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa penguasaan kecerdasan buatan (AI) harus dibarengi dengan kompetensi dan keadaban digital guna mencegah dampak negatif dari pemanfaatan teknologi yang terus berkembang.

AI Jadi Bagian Peradaban, Tapi Etika Harus Diutamakan

Pernyataan tersebut disampaikan dalam seminar nasional bertema AI dan Peningkatan Mutu Pendidikan untuk Semua yang digelar di Universitas Negeri Yogyakarta pada Sabtu, 24 Januari 2026.

Menurut Abdul Mu’ti, AI kini telah menjadi bagian dari peradaban manusia dan memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk pendidikan, riset, dunia kerja, serta cara memperoleh pengetahuan.

Ia menekankan bahwa penguasaan teknologi digital tanpa keadaban digital justru berpotensi menimbulkan persoalan sosial baru.

AI dinilai membawa dua sisi: di satu sisi dapat menggantikan sejumlah pekerjaan, namun di sisi lain membuka peluang baru bagi mereka yang mampu menguasainya.

Kelompok paling terdampak adalah mereka yang tidak memiliki kemampuan teknologi, sementara mereka yang mampu memanfaatkan AI akan semakin berdaya.

Oleh karena itu, pendidikan memiliki peran strategis untuk memastikan generasi muda tidak tertinggal dalam perkembangan teknologi.

Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa AI bekerja dengan menghimpun dan mengolah data yang dimasukkan manusia, sehingga akurasi dan etika data menjadi kunci utama.

Jika data tidak valid atau tidak etis, maka hasil keluaran AI juga bisa menyesatkan.

Ia menegaskan bahwa AI tidak memiliki hati dan kesadaran moral, sehingga manusia tetap harus bertanggung jawab atas etika dan kebenaran informasi yang dihasilkan.

Mendikdasmen juga menyoroti maraknya manipulasi digital seperti pemalsuan gambar, suara, dan narasi yang dapat merusak reputasi seseorang.

Dalam masyarakat yang cenderung membaca secara cepat dan dangkal, konten manipulatif sangat mudah dipercaya dan disebarluaskan.

AI dan Coding Dimasukkan dalam Kurikulum, Karakter Tetap Jadi Fondasi

Sebagai langkah konkret, Kemendikdasmen mulai mengintegrasikan pembelajaran AI dan coding sebagai mata pelajaran pilihan sejak kelas V sekolah dasar.

Kebijakan ini diterapkan secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan guru dan infrastruktur pendidikan di berbagai wilayah.

Meski begitu, Abdul Mu’ti menegaskan bahwa pendidikan karakter tetap menjadi fondasi utama dalam proses pembelajaran berbasis teknologi.

Nilai-nilai karakter tidak diajarkan sebagai mata pelajaran tersendiri, melainkan diintegrasikan ke seluruh proses pembelajaran dan budaya sekolah. 

Penulis :
Gerry Eka