
Pantau - Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur bersama Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) terus menunjukkan komitmennya dalam pengelolaan bentang alam Wehea-Kelay, wilayah penting yang menjadi habitat orang utan Kalimantan sekaligus penyangga ekosistem Sungai Mahakam dan Sungai Segah.
Kolaborasi 11 Tahun untuk Hutan dan Iklim
Sejak 2015, pengelolaan Wehea-Kelay dilakukan melalui skema kolaboratif multipihak yang melibatkan sedikitnya 23 pihak, mulai dari pemerintah daerah, lembaga adat seperti Masyarakat Adat Wehea, dunia usaha, perguruan tinggi, hingga LSM dan lembaga penelitian.
Kawasan yang terletak di Kabupaten Kutai Timur dan Berau ini masih mempertahankan sekitar 80 persen tutupan hutannya, yang berpotensi menyimpan hingga 191 juta ton CO₂ equivalent, menjadikannya aset strategis untuk mitigasi perubahan iklim.
Kolaborasi ini menunjukkan bahwa pelestarian lingkungan bisa terintegrasi dengan perlindungan iklim dan ekonomi hijau.
Temuan Spesies Baru dan Potensi Biofarmaka
Studi terbaru pada 2025 menunjukkan peningkatan jumlah spesies flora dan fauna yang berhasil diidentifikasi di kawasan ini.
Salah satu kajian penting adalah bioprospeksi terhadap 60 jenis tumbuhan yang menjadi pakan orang utan.
Sebanyak 11 jenis di antaranya memiliki potensi pengembangan dalam bidang farmasi, khususnya sebagai bahan fitokimia, antikanker, antidiabetes, dan sitotoksik.
Potensi ini membuka peluang besar untuk inovasi berbasis keanekaragaman hayati lokal.
Kelestarian Hutan Seiring Pemberdayaan Ekonomi
Upaya konservasi di Wehea-Kelay berjalan seiring dengan pemberdayaan ekonomi lokal, termasuk melalui penerapan sertifikasi FSC (Forest Stewardship Council) oleh sektor swasta.
Langkah ini mencerminkan komitmen perusahaan pemegang konsesi untuk menerapkan prinsip keberlanjutan dalam hutan produksi.
Pengelolaan kawasan ini menjadi contoh nyata bahwa konservasi dan pembangunan berkelanjutan dapat berjalan berdampingan, berbasis ilmu pengetahuan dan partisipasi aktif komunitas lokal.
- Penulis :
- Gerry Eka







