
Pantau - Kementerian Kesehatan menyatakan transfer teknologi tinggi menjadi langkah strategis untuk memperkuat kemandirian alat kesehatan nasional melalui kerja sama antara Philips, Graha Teknomedika, dan Panasonic Healthcare Indonesia.
Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan Lucia Rizka Andalusia menyampaikan bahwa kerja sama tersebut penting untuk mendorong produksi alat kesehatan berteknologi tinggi secara lokal di Indonesia.
Ia mengungkapkan saat ini sekitar 80 persen alat kesehatan berteknologi tinggi di Indonesia masih merupakan produk impor.
Lucia menjelaskan bahwa sekitar 80 persen alat kesehatan berteknologi rendah dan menengah sebenarnya sudah dapat diproduksi di dalam negeri.
Produksi alat kesehatan domestik secara menyeluruh dalam satu rantai pasok dinilai krusial untuk memenuhi kebutuhan nasional.
Produksi dalam negeri juga diperlukan agar Indonesia siap menghadapi situasi darurat seperti pembatasan distribusi saat pandemi.
"Nggak akan ada kekosongan, kekurangan. Dan yang penting juga mendukung program beliau Kementerian Investasi dan Hilirisasi yaitu investasi di Indonesia," ungkap Lucia Rizka Andalusia.
Lucia Rizka Andalusia menjelaskan bahwa investasi tidak hanya diukur dari besaran dana yang masuk, tetapi juga dari kualitas serta nilai tambah yang dihasilkan.
Transfer teknologi dan produksi alat kesehatan di dalam negeri dinilai mampu meningkatkan penyerapan sumber daya manusia ke dalam lapangan kerja.
Dalam kerja sama tersebut, dua produk utama yang diproduksi adalah ultrasound dan patient monitor.
Lucia berharap kerja sama transfer teknologi tidak berhenti pada dua produk tersebut saja.
Ia menyampaikan harapan agar alat kesehatan berteknologi tinggi lainnya seperti CT Scan, Cath Lab, dan MRI juga dapat diproduksi di Indonesia.
Kementerian Kesehatan menargetkan agar alat kesehatan hasil produksi dalam negeri dapat memenuhi ketentuan Tingkat Komponen Dalam Negeri.
Lucia menyebutkan bahwa jika produksi dilakukan secara menyeluruh di dalam negeri maka tingkat komponen dalam negeri dapat mencapai lebih dari 50 persen.
Kementerian Investasi dan Hilirisasi menyatakan dukungan terhadap upaya Kementerian Kesehatan dalam membangun kemandirian alat kesehatan nasional.
Dukungan tersebut diberikan melalui kemudahan perizinan, pendampingan, serta fasilitasi negosiasi antar pihak yang terlibat kerja sama.
Deputi Menteri Penanaman Modal Bidang Promosi Penanaman Modal Nurul Ichwan menyampaikan pihaknya mendorong perusahaan untuk memenuhi ketentuan tingkat komponen dalam negeri.
"Kita sangat mendorong perusahaan-perusahaan yang punya niat baik untuk memenuhi TKDN mereka sehingga resiliency dan juga sustainability dari penyiapan alat-alat yang berteknologi tinggi bagi pasien di Indonesia itu bisa tersedia dengan baik," ungkap Nurul Ichwan.
Ia berharap kebijakan tersebut dapat meningkatkan ketahanan dan keberlanjutan penyediaan alat kesehatan berteknologi tinggi.
Kementerian Investasi dan Hilirisasi juga berharap langkah ini mampu menumbuhkan kepercayaan publik terhadap layanan kesehatan nasional.
- Penulis :
- Aditya Yohan







