Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

Petani Pinang Kayu Pasak Timur Pulih Pascabencana, Hasil Panen Meningkat di Musim Kemarau

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Petani Pinang Kayu Pasak Timur Pulih Pascabencana, Hasil Panen Meningkat di Musim Kemarau
Foto: (Sumber: Pedagang pengumpul saat melihat pinang yang sudah kering usai dijemur di Kayu Pasak Timur Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Saat ini petani pinang mulai bangkit dengan produksi mulai meningkat. ANTARA/Altas Maulana.)

Pantau - Petani pinang di Kayu Pasak Timur, Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, mulai bangkit secara perlahan setelah terdampak bencana banjir bandang pada akhir November 2025.

Dua bulan pascabencana, aktivitas pertanian di daerah tersebut mulai normal meskipun akses jalan menuju lahan masih tertimbun material banjir bandang.

Petani menempuh jalan yang sudah mulai mengering dan mengeras karena memasuki musim kemarau untuk kembali memanen pinang.

Syahrul (44), salah seorang petani, mengungkapkan, "Saya mulai panen pinang dengan hasil yang cukup bagi. Naik dibandingkan sebelumnya. Biasanya cuma panen 800 kilogram saat ini bisa mencapai satu ton di lahan sekitar setengah hektare."

Pada awal bencana, Syahrul tidak bisa memanen pinang karena akses jalan belum bisa ditempuh dan ia juga ikut membantu membersihkan pemukiman serta rumah warga yang menjadi korban banjir bandang.

Harga dan Volume Panen Mengalami Kenaikan

Harga pinang kering saat ini meningkat dari Rp15 ribu per kilogram menjadi Rp17 ribu per kilogram.

Masa panen pinang tua dilakukan setiap enam bulan, sedangkan pinang muda setiap tiga bulan.

Doni (48), pedagang pengumpul, menyebut aktivitas panen petani mulai meningkat dengan banyak petani menjual pinangnya.

Ia menambahkan, "Kebiasaannya jika musim hujan buah pinang akan meningkat. Kebetulan dua bulan yang lalu musim hujan dan sekarang musim kemarau, makanya hasil panen petani meningkat."

Saat ini pedagang dapat menampung 50 ton pinang kering per bulan, naik dibanding sebelum bencana yang hanya 40 ton per bulan dengan harga Rp17 ribu per kilogram.

Penulis :
Ahmad Yusuf
Editor :
Tria Dianti