Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Di Balik Banjir, Sungai Membangun Tanah Subur: Telaah Geomorfologi tentang Peran Fluvial-Aluvial

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Di Balik Banjir, Sungai Membangun Tanah Subur: Telaah Geomorfologi tentang Peran Fluvial-Aluvial
Foto: (Sumber: Arsip-Salah satu aliran sungai yang rusak diduga akibat aktivitas tambang ilegal di Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat. (ANTARA/Muhammad Zulfikar).)

Pantau - Di tengah rentetan banjir bandang yang melanda berbagai wilayah Indonesia sejak akhir 2025 hingga awal 2026, muncul refleksi penting tentang peran sungai dalam membentuk tanah subur yang selama ini menjadi tumpuan pertanian nasional.

Fenomena banjir yang terjadi mulai dari Sumatera, kemudian merambah ke Sulawesi, Kalimantan, dan Pulau Jawa, menyimpan proses geomorfologi alami yang membentuk tanah produktif di dataran rendah.

Tanah subur di sekitar sawah dan dataran rendah sebenarnya berasal dari material yang dibawa sungai selama ratusan hingga ribuan tahun.

Material ini berasal dari lereng pegunungan, batuan yang melapuk, dan butiran tanah yang terlepas karena hujan, lalu diangkut secara perlahan oleh aliran sungai.

Sungai: Antara Erosi dan Penciptaan Tanah Subur

Dalam ilmu geomorfologi, proses ini dikenal sebagai fluvial–aluvial.

Fluvial merujuk pada proses sungai yang mengikis, mengangkut, dan memindahkan material.

Sementara aluvial adalah proses pengendapan kembali material tersebut di dataran rendah, membentuk tanah yang subur.

Sungai memang dapat bersifat merusak dengan mengikis lereng dan tebing, namun secara bersamaan juga menciptakan dataran banjir yang kaya nutrisi di hilir.

Inilah paradoks alam: tanah subur yang menopang kehidupan justru berasal dari proses erosi di tempat lain.

Pada masa awal terbentuknya Bumi, sungai-sungai purba bersifat curam dan sangat erosif, membawa kerakal, kerikil, dan pasir kasar.

Tanpa kehadiran tumbuhan darat, erosi berlangsung besar-besaran karena tidak ada akar yang menahan tanah.

Perubahan signifikan terjadi saat tumbuhan mulai tumbuh di daratan.

Akar tanaman memperkuat tebing sungai dan membantu mengatur aliran air, memungkinkan sungai meninggalkan sedimen halus di sepanjang sisi alirannya ketika meluap.

Secara perlahan, proses ini menciptakan dataran banjir subur di sepanjang sungai.

Menghormati Cara Kerja Sungai sebagai Strategi Masa Depan

Dari proses alami yang berulang inilah terbentuk sistem pertanian subur yang kita kenal sekarang.

Sungai tidak hanya membentuk lanskap, tetapi juga menjadi arsitek kesuburan tanah melalui kerja panjang selama ribuan tahun.

Kesimpulan dari telaah ini adalah bahwa tanah subur di dataran aluvial adalah hasil dari proses geomorfologi yang panjang dan teratur.

“Cara terbaik menjaga masa depan pertanian kita adalah dengan kembali menghormati cara sungai bekerja,” tulis Prof. Dr. Dian Fiantis dalam artikelnya.

Penulis :
Aditya Yohan