
Pantau - Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) bekerja sama dengan Kementerian Pertanian (Kementan) dan Perum Bulog untuk mendorong ekspor beras ke Arab Saudi guna memenuhi kebutuhan konsumsi jamaah calon haji Indonesia pada musim haji 1447 Hijriah/2026.
Jaenal Effendi, Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah (PE2HU) Kemenhaj, menyatakan bahwa pemanfaatan beras produksi dalam negeri menjadi prioritas utama dalam memperkuat ekosistem ekonomi haji nasional.
Ia menegaskan bahwa Indonesia harus berhenti bergantung pada pasokan beras dari negara lain seperti Vietnam dan Thailand untuk konsumsi jamaah haji.
"Pemenuhan konsumsi jamaah haji tidak dapat dilakukan secara parsial. Diperlukan sinergi yang kuat dengan kementerian dan lembaga terkait, agar kebijakan yang disusun selaras dan rantai pasok pangan haji dapat diperkuat," ungkapnya.
Komitmen Pemanfaatan Beras Nasional
Berdasarkan proyeksi Ditjen PE2HU, kebutuhan beras untuk 205.420 calon dan petugas haji pada musim haji 2026 diperkirakan mencapai sekitar 3.913 ton.
Perhitungan ini didasarkan pada asumsi konsumsi 150 gram beras per porsi untuk 127 kali makan selama masa operasional haji.
Ditjen PE2HU telah menyepakati komitmen bersama dengan berbagai pihak untuk mengupayakan pemanfaatan beras nasional.
Perum Bulog akan menghitung kebutuhan total beras dan menyiapkan pasokan sesuai standar kualitas yang ditetapkan, termasuk beras premium dengan tingkat pecahan maksimal lima persen.
Kementerian Pertanian akan memberikan dukungan dari sisi regulasi untuk memperlancar proses ekspor beras ke Arab Saudi.
Tantangan Harga dan Daya Saing
Harga beras premium dari negara pesaing saat ini masih di bawah harga beras Indonesia, sehingga diperlukan dukungan dan fasilitasi kebijakan agar produk nasional dapat bersaing dan diterima di pasar konsumsi haji.
Jaenal menyatakan bahwa kondisi swasembada beras saat ini adalah momentum emas untuk memperkuat ekosistem ekonomi haji nasional.
Tantangan utama selama ini dalam penggunaan beras lokal adalah faktor harga.
Namun, dengan penguatan ekosistem ekonomi haji, pemerintah optimistis produk nasional dapat memiliki daya saing yang kuat.
Tri Hidayatno, Direktur Fasilitasi Kemitraan PE2HU Kemenhaj, menyatakan bahwa pemenuhan kebutuhan konsumsi ini adalah bagian dari membangun legasi baru.
"Melalui sinergi ini, kami menjembatani agar perputaran ekonomi haji yang nilainya sangat besar dapat dirasakan langsung oleh pelaku usaha dan produsen di tanah air," ia mengungkapkan.
Dengan perencanaan yang dimulai sejak dini, Ditjen PE2HU optimistis bahwa pada musim haji mendatang, jamaah calon haji Indonesia dapat menikmati nasi dari beras produksi petani Indonesia sendiri.
Hal ini juga akan memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi nasional.
- Penulis :
- Shila Glorya







