Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Bupati Tapanuli Selatan Minta Alat Berat Amfibi Atasi Tumpukan Kayu 3,3 Kilometer di Sungai Batang Toru

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Bupati Tapanuli Selatan Minta Alat Berat Amfibi Atasi Tumpukan Kayu 3,3 Kilometer di Sungai Batang Toru
Foto: (Sumber: Suasana di Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Toru yang berada di Desa Garoga, Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan, yang terdampak bencana hidrometeorologi sehingga menyebabkan kayu berukuran besar menumpuk di kawasan tersebut, Kamis (29/1/2026). ANTARA/Mario Sofia Nasution..)

Pantau - Bupati Tapanuli Selatan Gus Irawan Pasaribu menyatakan kebutuhan mendesak alat berat amfibi untuk mengatasi tumpukan kayu besar yang menghambat aliran Sungai Batang Toru akibat bencana hidrometeorologi.

Gus Irawan Pasaribu menjelaskan tumpukan kayu di bagian hilir sungai tersebut menyebabkan aliran air tertahan dan memicu banjir di sejumlah desa.

Gus Irawan menyampaikan “Kalau dihitung, tumpukan kayu yang ada di hilir sana panjangnya mencapai 3,3 kilometer km, dan akibatnya masih ada beberapa desa kami yang kebanjiran,” ungkapnya.

Aliran Sungai Batang Toru yang seharusnya mengalir ke wilayah lebih rendah tertahan oleh batang kayu berukuran besar sehingga air meluap ke permukiman warga.

Tumpukan kayu dilaporkan menutup aliran sungai di tiga titik berbeda di wilayah hilir.

Gus Irawan menjelaskan “Lokasi tumpukan kayu ini sudah agak dekat ke batas Mandailing dan di hilir sungai Batang Toru ini ada tiga titik penumpukan,” ujarnya.

Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan telah berdiskusi dengan Balai Besar KSDA, Balai Besar Sungai, serta pihak BUMN terkait penanganan batang kayu yang menutup aliran sungai.

Gus Irawan menegaskan “Tidak ada cara lain, kecuali dengan mendatangkan alat berat amfibi. Kami berharap ini segera ditangani,” katanya.

Selain persoalan sungai, Gus Irawan Pasaribu juga menyoroti kebutuhan pembangunan jembatan permanen di atas Sungai Garoga yang menghubungkan Kabupaten Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, dan Kota Sibolga.

Jembatan tersebut dinilai vital untuk distribusi barang dan mobilisasi masyarakat di kawasan tersebut.

Saat ini telah dibangun dua Jembatan Bailey yang bersifat sementara dengan batasan tonase maksimal 25 ton.

Gus Irawan menyampaikan “Saat ini, sudah dibangun dua Jembatan Bailey di lokasi, tapi ini kan sifatnya sementara dan ada batasan truk di bawah tonase 25 ton yang boleh lewat di sana,” ungkapnya.

Kebutuhan jembatan permanen telah dilaporkan kepada Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera yang juga Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian.

Jembatan permanen dibutuhkan agar mampu menopang kendaraan dengan beban di atas 30 ton, terutama untuk distribusi gas bersubsidi dan non subsidi ke Tapanuli Selatan.

Distribusi gas dilakukan dari Kota Padang menggunakan kapal menuju Pelabuhan Sibolga sebelum diangkut melalui jalur darat melewati jembatan Sungai Garoga.

Pengangkutan gas saat ini hanya dapat dilakukan satu kali dalam seminggu dan dinilai belum mencukupi kebutuhan masyarakat.

Gus Irawan menyebut keberadaan jembatan permanen diharapkan dapat melancarkan distribusi logistik dan kebutuhan energi di wilayah Tapanuli Selatan.

Penulis :
Aditya Yohan