
Pantau - Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menyatakan bahwa dataran tinggi sebaiknya dijadikan hutan, bukan ditanami palawija atau hortikultura, guna mencegah bencana alam seperti longsor.
"Bagian yang tinggi selalu lebih baik menjadi hutan daripada menjadi tanaman palawija karena bahayanya lebih tinggi," ujarnya.
Pernyataan tersebut disampaikan Hanif usai meninjau pengelolaan sampah di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Minggu, 1 Februari 2026, sekaligus menanggapi kejadian longsor di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.
Ia menjelaskan bahwa saat ini banyak dataran tinggi ditanami tanaman subtropis seperti kentang, kol, dan paprika yang umum tumbuh di ketinggian 800–2.000 mdpl.
Menurutnya, kecenderungan tersebut muncul karena tingginya kebutuhan konsumsi masyarakat terhadap tanaman jenis itu, namun perlu dilakukan evaluasi ulang.
"Ini imbauan saya, tentu mau enggak mau juga kita harus memikirkan ulang pola makan kita, mengurangi, mohon maaf ya, mengurangi tanaman-tanaman subtropis semisal kentang, kol, paprika," ujarnya.
Dataran Tinggi Lebih Aman Dikembalikan ke Tanaman Asli
Hanif menambahkan bahwa tanaman-tanaman tersebut bukan tanaman endemik Indonesia dan sebaiknya dataran tinggi dikembalikan untuk ditanami tanaman lokal.
"Kita kembalikan sama tanaman asli Indonesia yang kemudian tidak memerlukan tempat tumbuh yang tinggi," katanya.
Menurutnya, penanaman palawija atau hortikultura di dataran tinggi menghilangkan fungsi perlindungan alami dari hutan, yang berpotensi menyebabkan longsor.
Ia mencontohkan kejadian longsor di Bukit Burangrang, Cisarua, Bandung Barat, di mana batas hutan dengan permukiman ditanami tanaman semusim.
"Jika seandainya menjadi hutan tentu akan mampu mencegah sesuatu yang tidak kita inginkan," jelasnya.
- Penulis :
- Gerry Eka







