
Pantau - Sebanyak 27 orang yang diduga terlibat dalam aksi tawuran diamankan oleh Polres Metro Jakarta Timur dalam pelaksanaan Operasi Penyakit Masyarakat (Pekat) Jaya 2026 yang dimulai sejak 28 Januari 2026.
Operasi Terpadu Cegah Tawuran di Jakarta Timur
Operasi Pekat Jaya 2026 digelar untuk menciptakan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat yang kondusif di wilayah Jakarta Timur.
Wakapolres Metro Jakarta Timur, AKBP Achmad Akbar, menyatakan bahwa sejak dimulainya operasi hingga pekan pertama pelaksanaan, telah terjadi lima peristiwa indikasi tawuran yang berhasil ditindak dan dibubarkan oleh aparat.
"Dari lima peristiwa tersebut, kami mengamankan 27 orang yang diduga terlibat aksi tawuran," ungkapnya.
Operasi ini berlangsung selama 15 hari, yakni dari 28 Januari hingga 11 Februari 2026, dengan dukungan dari Polda Metro Jaya, Pemerintah Kota Jakarta Timur, dan Kodim 0505 Jakarta Timur.
Dari total 27 orang yang diamankan, 20 di antaranya masih tergolong anak-anak, sementara 7 lainnya masuk kategori dewasa.
Pendekatan Pembinaan dan Penindakan Terukur
Polisi menerapkan pendekatan berbeda terhadap anak-anak yang terlibat, dengan mengutamakan pembinaan.
"Dari 20 anak tersebut, dua anak diproses sesuai ketentuan hukum, sementara 18 lainnya diberikan pembinaan secara komprehensif," ia mengungkapkan.
Pembinaan dilakukan bekerja sama dengan Suku Dinas Sosial Jakarta Timur agar anak-anak tidak kembali terlibat dalam tindakan melanggar hukum.
Sementara itu, terhadap tujuh orang dewasa, pihak Kepolisian juga melakukan pembinaan dengan melibatkan unsur masyarakat di lingkungan tempat tinggal mereka.
Pendekatan ini bertujuan memperkuat peran lingkungan dalam mencegah aksi tawuran terulang kembali.
Selain mengamankan para terduga pelaku, petugas juga menyita sejumlah barang bukti yang diduga digunakan dalam rencana tawuran.
Barang bukti yang diamankan meliputi tiga bilah senjata tajam, lima unit sepeda motor, dan delapan belas unit telepon genggam.
"Khusus untuk barang bukti telepon seluler, saat ini masih dalam pendalaman. Kami lakukan analisa forensik digital untuk menelusuri jejak-jejak digital yang sekiranya berkaitan dengan indikasi tawuran," jelas Akbar.
Penindakan dilakukan secara represif, namun berdasarkan deteksi intelijen dan patroli gabungan di wilayah yang rawan tawuran.
"Dari kegiatan deteksi intelijen dan patroli, kami menemukan kelompok-kelompok yang akan atau patut diduga melakukan tawuran. Dengan upaya bersama, indikasi-indikasi tersebut berhasil kami gagalkan," ujarnya.
Operasi Pekat Jaya 2026 akan terus diintensifkan hingga 11 Februari mendatang.
AKBP Achmad Akbar menambahkan bahwa sinergi lintas instansi serta dukungan masyarakat diharapkan dapat menekan angka tawuran dan menciptakan rasa aman bagi warga Jakarta Timur.
- Penulis :
- Arian Mesa







