
Pantau - Institut Pertanian Bogor (IPB) University menjalin kerja sama strategis dengan China Agricultural University (CAU) dalam bidang akademik, riset, dan aksi kolaboratif guna mewujudkan transformasi pedesaan di Indonesia.
Kolaborasi ini mengusung pola studi komparatif yang memungkinkan Indonesia memahami strategi transformasi desa yang dilakukan China, dan sebaliknya.
"Akademisi dari CAU nantinya akan melakukan riset langsung di desa-desa di Indonesia," ungkap salah satu perwakilan IPB University.
Salah satu hasil nyata dari kerja sama ini adalah publikasi jurnal ilmiah bersama yang dapat menjadi acuan dalam pengambilan kebijakan pembangunan pedesaan.
Saat ini, tahapan implementasi kerja sama tengah berjalan dengan penyusunan lini waktu kegiatan secara cermat dan terencana.
Agenda Teknis dan Fokus Kemitraan
"Usai lawatan Presiden CAU kemarin, kami segera bergegas menyusun agenda-agenda teknis, mulai dari perencanaan hingga ke proyeksi output nanti. Tentu saja, harapan kami bersama adalah kerja sama ini berdampak, tidak hanya secara ilmiah tetapi juga pada level kebijakan yang berpengaruh terhadap kesejahteraan masyarakat luas," ungkap narasumber dari IPB.
Kerja sama ini juga mencakup kemitraan kelembagaan antara Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB University dan College of Social and Humanities CAU.
Fokus utama dari kemitraan ini adalah isu transformasi desa di Indonesia dan China.
"Pertama, secara demografis, China dan Indonesia memiliki populasi SDM yang melimpah. Kedua, secara tipologi, Indonesia dan China memiliki kesamaan sebagai negara dengan karakteristik pedesaan yang kuat. Kesamaan-kesamaan ini membuka peluang untuk saling belajar dan berkolaborasi," jelasnya.
Guru Besar Sosiologi Pembangunan Desa IPB University menegaskan bahwa capaian pembangunan desa di China layak dijadikan referensi.
"China berhasil menyelesaikan kemiskinan ekstrem pada akhir tahun 2020 lalu. Hal tersebut tentu sangat menginspirasi sekaligus sangat relevan dengan kondisi di Indonesia saat ini. Di tahun 2026, Pemerintah Indonesia menargetkan kemiskinan ekstrem 0 persen. Tuntas. Kita bisa belajar dari pengalaman keberhasilan Tiongkok tersebut," ia mengungkapkan.
- Penulis :
- Leon Weldrick







