Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Ekspor Baja Melonjak, Kemenperin Catat Neraca Perdagangan Baja Nasional Beralih ke Surplus

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Ekspor Baja Melonjak, Kemenperin Catat Neraca Perdagangan Baja Nasional Beralih ke Surplus
Foto: (Sumber: Rapat kerja Komisi VI DPR RI dengan Wamenperin Faisol Riza dan Menteri Perdagangan Budi Santoso di Jakarta, Rabu (4/2/2026). (ANTARA/A.Muzdaffar Fauzan).)

Pantau - Kementerian Perindustrian mencatat kinerja industri baja dalam negeri menunjukkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir yang ditandai lonjakan ekspor dan penurunan impor sehingga mendorong perbaikan neraca perdagangan baja nasional.

Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza menyampaikan capaian tersebut dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI di Jakarta pada Rabu 4 Februari 2026.

Volume ekspor baja Indonesia melonjak dari 9,3 juta ton pada tahun 2020 menjadi 23,97 juta ton pada tahun 2025 yang mencerminkan penguatan kapasitas produksi dan meningkatnya daya saing industri baja domestik di pasar global.

Di sisi lain, impor baja yang sempat meningkat hingga 17,9 juta ton pada tahun 2022 tercatat menurun secara bertahap menjadi 14,8 juta ton pada tahun 2025.

Perkembangan ekspor dan impor tersebut mendorong pergeseran neraca perdagangan baja dari kondisi defisit menjadi surplus sebesar 18,09 juta ton.

Faisol Riza menjelaskan bahwa capaian surplus neraca perdagangan baja dipengaruhi kebijakan hilirisasi pemerintah, peningkatan produksi dalam negeri, dinamika harga global, serta perubahan rantai pasok akibat tekanan geopolitik.

Dari sisi nilai, ekspor baja nasional pada tahun 2024 tercatat mencapai 29,23 miliar dolar Amerika Serikat dengan struktur pasar yang masih didominasi kawasan Asia Pasifik.

Lima negara tujuan utama ekspor baja Indonesia adalah China, Taiwan, India, Australia, dan Vietnam.

China menjadi pasar terbesar dengan nilai ekspor baja Indonesia mencapai 16,11 miliar dolar Amerika Serikat.

Capaian tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu eksportir baja terbesar di Asia Tenggara setelah Malaysia dan Vietnam.

Pemerintah menilai capaian ini sebagai modal penting untuk memperluas pangsa pasar ekspor melalui peningkatan utilisasi dan kapasitas produksi industri baja nasional.

Berdasarkan data World Steel Association, total produksi baja kasar dunia pada tahun 2025 mencapai 1.849 juta ton dengan China sebagai produsen terbesar sebesar 960,8 juta ton atau 51,9 persen dari total produksi global.

India menempati posisi kedua dengan produksi 164,9 juta ton atau sekitar 8,9 persen dari total produksi dunia.

Dari sisi permintaan domestik, konsumsi baja nasional masih didominasi sektor konstruksi yang menyerap 77,1 persen dari total konsumsi berdasarkan data IISIA dan World Steel Association.

Sektor otomotif menempati posisi kedua dengan kontribusi 11,6 persen, disusul sektor peralatan rumah tangga sebesar 3,3 persen.

Secara agregat, konsumsi baja tertimbang tumbuh positif sebesar 5,2 persen pada tahun 2024 setelah sempat terkontraksi pada tahun 2020 akibat perlambatan ekonomi global.

Meski menunjukkan pemulihan, konsumsi baja per kapita Indonesia pada tahun 2025 masih sekitar 60 kilogram per kapita atau jauh di bawah rata-rata global sebesar 217 kilogram per kapita yang menandakan peluang ekspansi masih sangat besar.

Penulis :
Aditya Yohan