Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Tol Sicincin–Bukittinggi Dibagi Jadi Dua Segmen, Butuh Biaya Rp25 Triliun dan Dua Terowongan

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Tol Sicincin–Bukittinggi Dibagi Jadi Dua Segmen, Butuh Biaya Rp25 Triliun dan Dua Terowongan
Foto: (Sumber: Ilustrasi kendaraan melintas di Jalan Tol Padang Sicincin yang merupakan bagian dari ruas Tol Padang-Pekanbaru. ANTARA/Muhammad Zulfikar.)

Pantau - Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi menyampaikan bahwa Kementerian Pekerjaan Umum membagi pembangunan Jalan Tol Sicincin–Bukittinggi menjadi dua segmen utama untuk menyesuaikan dengan kondisi medan yang kompleks.

“Pembangunannya direncanakan dua segmen utama yakni segmen Sicincin/Kayu Tanam–Padang Panjang sepanjang 20,3 kilometer, dan segmen Bukittinggi–Padang Panjang sepanjang 19,71 kilometer,” ujar Mahyeldi.

Setiap segmen akan dilengkapi satu simpang susun (interchange) untuk memperkuat konektivitas antarwilayah.

Medan Kompleks, Butuh Terowongan dan Jembatan Panjang

Total biaya pembangunan Tol Sicincin–Bukittinggi diperkirakan mencapai Rp25,23 triliun, berdasarkan kajian Kementerian PU dan instansi terkait.

Pada seksi Sicincin/Kayu Tanam–Padang Panjang akan dibangun dua terowongan dengan total panjang 5,85 kilometer, yakni:

  • Terowongan pertama: 5,5 kilometer
  • Terowongan kedua: 0,35 kilometer

Pembangunan seksi ini akan menggunakan skema kombinasi:

  • 4,45 kilometer jalan di atas permukaan tanah
  • 10 kilometer berupa jembatan
  • Sisanya berupa terowongan

Sementara itu, segmen Bukittinggi–Padang Panjang direncanakan:

  • 17 kilometer jalan di atas tanah
  • 2,71 kilometer berupa jembatan

“Mengingat karakteristik medan yang cukup kompleks dan perlu terowongan, maka dibutuhkan survei dan analisis yang komprehensif sebagai dasar perencanaan. Saat ini survei topografinya sudah selesai dilaksanakan,” jelas Mahyeldi.

Tunggu Izin Hutan Lindung untuk Survei Geoteknik

Tahap selanjutnya dari proyek ini adalah survei geoteknik berupa boring investigation atau penyelidikan tanah melalui pengeboran vertikal.

Survei ini dijadwalkan berlangsung dari pertengahan Februari hingga awal Mei 2026.

Namun pelaksanaannya masih menunggu terbitnya izin untuk memasuki kawasan hutan lindung dari kementerian terkait.

“Dengan syarat izin memasuki hutan lindung sudah keluar dari kementerian terkait. Jika itu belum terbit, tim survei belum bisa bekerja,” ujarnya.

Proyek ini diharapkan menjadi jalur strategis baru yang menghubungkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi di Sumatera Barat secara lebih cepat dan efisien.

Penulis :
Aditya Yohan